Flashdisk Cinta

“Jeje…..Liat apa yang gue dapet!” teriak Orel berlari dari jauh. Ia berhenti di depan Jessica, napasnya terdengar ngos-ngosan. Jessica mengernyitkan dahi, bingung mendapati sahabatnya se aneh ini. muka Orel sangatlah sumringah. Ntah apa yang ia dapatkan. “Liat semua foto-foto yang gue dapet. Special for you, Je!” sambung Orel mengedipkan sebelah matanya. Jessica baru saja membuka mulut akan angkat bicara, namun tak jadi. Diambilnya handphone Orel lalu ia mengamati foto-foto yang di dapatkan Orel.

            “Great!”

            Kini Jessica sama gilanya dengan Orel. Ia ikut meloncat-loncat kegirangan. “Thanks a lot Rel, you’re my best friend ever!” ucapnya sambil tersenyum-senyum sendirian. “Yeah, walaupun si Dava lagi nggak banget!” timpal Orel sambil meringis. Jessica langsung menutup mulut sahabatnya itu spontan. Matanya melotot dan pipinya langsung memerah menahan malu. “Jangan ngomong kenceng disini ntar kedengeran orang! Gue malu!” timpalnya langsung. Orel hanya tertawa.

            “Iya, muka Loe udah kayak tomat!” Orel berlari sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V yang melambangkan peace. Jessica mengepalkan tangannya dan berlari mengejar Orel, sahabatnya yang usil itu.

☻☻☻

            “Beneran ini flashdisk enggak dipake? Aku cuma mau pinjem buat nge-copy file tugas dari Randy.” Tanya Dava lagi untuk ke sekian kalinya. Jessica terbius. Ia hanya mengangguk-angguk tak bisa bicara. Meski jantungnya dag dig dug menatap orang yang ada di depannya itu. “Nggak ada virusnya kan?” canda Dava. “Nggaaaak, nggaaak!” Jessica bicara juga walaupun terdengar nada nervousnya. Dava tersenyum, Jessica luluh.

            Dava keluar dari kelas Jessica. Di luar Orel dan Vera mengintip mereka berdua dan langsung menghampiri Jessica saat Dava pergi. “Cieeeee!” Orel menggodanya. Jessica tampak malu-malu.Vera langsung duduk di samping sahabatnya itu. “Je, katanya Loe punya foto-foto Dava nih, kok nggak ditunjukkin ke gue! Niat ah Loe jadi sang pengagum.” Vera mencoba meledek. Jessica hanya diam dan tersenyum-senyum sendiri.

            “Orang gila dasar. Loe simpen dimana fotonya? Soalnya udah gue hapus semua dari hape gue. Takut Sam liat, hehehehe.” Celoteh Orel. Jessica dan Vera memasang ekspresi jijiknya. “Sam? Loe cuma sang pengagum juga!” ejek Vera. Orel hanya menjulurkan lidahnya. Ia memang kadang suka mengada-ada dan mengkhayal tentang Sam, sahabat Dava yang ia puja-puja sejak pertama masuk sekolah ini.

            “Ada di flashdisk.” Jawab Jessica dingin.

            “Jeje! Loe autis! Bukannya tadi  tuh flashdisk dipinjemin ke si Dava ya?” Vera mengingatkan. Jessica terkejut. Mereka bertiga saling berpandangan. “Gue lupa.” Timpalnya pasrah. Jessica bingung harus berbuat apa. Ini gawat, jelas ini gawat. Bagaimana jadinya kalau Dava melihat foto-fotonya ada dalam flashdisk Jessica?

            “Aduh, gimana dong?” Jessica merasa bingung. Dan kedua sahabatnya itupun ikut bingung. “Loe sih, kenapa nggak bilang aja flashdisknya kepake ato apa kek yang penting jangan dipinjemin.” Omel Vera. “Gue terhipnotis,Ver!” ujar Jessica sambil menggigit jarinya, terus berpikir. Vera dan Orel menggeleng-gelengkan kepalanya.

☻☻☻

            “Dapet, Boy?” Sam mengangkat sebelah alisnya. Dava menyunggingkan senyum khas nya yang bisa membuat orang-orang seperti Jessica hampir pingsan. “Dapet dong, tapi gue sendiri bingung nih flashdisk mau diapain. Gue kan cuma niat pengen ketemu dia doang.” Ujar Dava sambil melempar-lempar flashdisk Jessica.

            “Loe kasihin ke Mbah, trus minta pelet yang manjur pake tuh flashdisk!” canda Sam yang langsung dihadiahkan buku terbang dari Dava. “Kampret! Eh tapi Sam, gue penasaran sama isi nih flashdisk.” Sahutnya. Sam masih sibuk mengunyah permen karetnya dan tidak terlalu mendengarkan Dava. “Mau tau isinya? Bakar aja!” timpal Sam lagi. Dava mengangkat jari tengahnya. “Fuck buat otak setengah waras !” Dava nyengir.  “Otak Loe seperempat waras!” tawa Sam malah semakin membahana.

            Dava asyik mengoprek laptopnya. Dari dulu ia memang menyukai apa yang berkaitan dengan teknologi. Kini ia ingin melihat apa yang ada di dalam flashdisk Jessica karena diam-diam ia juga menyukainya. Namun Dava tak menyadari kalau Jessica punya rasa yang sama. Sam pernah bilang bahwa Jessica suka padanya, Sam diberitahu Orel, namun Dava tetap tidak percaya karena baginya itu tidaklah mungkin.

            “Jeda?” tanyanya aneh karena melihat  semua folder hingga nama flashdisk Jessica selalu diawali dengan kata Jeda. “Andai aja itu Jessica-Dava, tapi nggak mungkin.” Ujarnya pada diri sendiri. Ia terus fokus mengecek folder dan semua file yang ada dalam flashdisk Jessica. Namun tiba-tiba keasyikannya berhenti saat ia melihat salah satu folder itu di beri nama JEDA “MY BOY”. Dava langsung terdiam. Ia merasa runtuh seperti tak ada lagi harapan untuknya.

            Ia penasaran. Apa isi folder yang membuatnya semakin pesimis itu? Ia ingin tahu, tapi ia malas dan segan untuk membukanya. Tidak seperti membuka folder-folder yang lain. Baginya, mungkin ini rahasia. Ia tak berhak untuk membukanya. Biarlah rasa penasaran yang merajai daripada ia harus mengulik privasi orang lain.

            Sam memandang aneh pada Dava. Ekspresinya terlihat lesu. Sam sedikit merasa tidak enak dan ingin tahu ada apa sebenarnya. Dava segera mencabut flashdisk Jessica dan menyerahkannya pada Sam. “Tolong balikin ini, gue nggak enak. Dia udah punya cowok.” Sam terkejut mendengar kata-kata Dava. “Sumfah?” tanyanya dibuat penasaran. “Balikin ke si Jeje, gue nggak mau ganggu dia lagi.” Dava pergi meninggalkan Sam yang sibuk memikirkan tanda tanya besar itu. Ada apa sebenarnya?  

☻☻☻

            “Kok bukan Dava yang balikin?” tanya Vera.

            “Mmm… Dava pulang duluan. Ada urusan.” Jawab Sam asal. Vera dan Jessica merasa kebingungan. Orel malah asyik memandangi pujaannya itu. Jessica merasa tidak enak. Ia takut Dava marah karena melihat fotonya ada di dalam flashdisk Jessica. Mungkin Dava tidak suka kalau dirinya mengaguminya.

            “Thanks ya.” Sam langsung cepat-cepat berlari meninggalkan mereka karena ia juga tidak tahu ada apa sebenarnya. Jessica lemas. Matanya berkaca-kaca. “Mungkin gue yang terlalu lebay.” Desahnya pasrah. Matanya mulai berkaca-kaca. Vera mengigit-gigit bibirnya karena kebingungan. “Emang kenapa kalo foto-foto itu ada di dalem flashdisk Loe? Kali aja dia udah ngerti.” Orel mencoba menghibur Jessica. “Gue simpen foto-foto dia dalem satu folder dan gue kasih nama MY BOY.” Jessica masih terus merasa tidak enak.

            Vera dan Orel tertegun. Mereka langsung bertatapan. “Jeje, wajar kok. Sam aja gue namain my prince.” Orel mencoba menenangkan. “Tapi bisa aja Dava nggak suka gue kayak gitu.” Jessica mulai tak bisa menahan tangisnya. “Gue malu.” Sambungnya lagi membuat Vera dan Orel bingung harus berbuat apa. “Minta maaf mungkin?” usul Vera. “Gue malu. Lebih baik gue nggak nampakin wajah depan dia.” Orel melotot mendengar kata-kata Jessica.

☻☻☻

            “Dava, aku mau minta maaf..”

            Dava Nampak sangat terkejut mendengar yang dikatakan Jessica. “Apa? Minta maaf buat apa?” ia balik bertanya. “Isi flashdisk itu.” Jawab Jessica segera, ia tak mau hanya diam mematung dan tak dapat menyelesaikan masalah ini dengan Dava. Namun Dava sendiri kebingungan. Kenapa Jessica harus minta maaf?

            “Nggak apa-apa kok, Je!” jawabnya lagi karena ia bingung ada apa dan apa yang harus ia katakan. Jessica terlihat lega. Kini ia tak akan lagi mengambil pusing tentang masalah ini. mungkin Dava mengerti bahwa sudah sewajarnya remaja seperti mereka merasakan jatuh cinta atau mengagumi seseorang. Dan Dava mengizinkannya untuk mengaguminya, itu yang ada di benak Jessica.

            Namun sebenarnya tetap saja….

            Dava tak tahu kalau MY BOY itu berisi semua tentang dirinya…

            Jessica juga tak tahu kalau Dava sebenarnya juga mengaguminya…..

            Flashdisk itu menyaksikan bahwa mereka saling memendam rasa…

            Sayangnya flashdisk tak dapat bicara…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s