16:00

       “Del, liat deh rumah itu, yang catnya udah luntur itu.”

            Nias terus saja menunjuk rumah yang sebenarnya tak asing lagi bagiku. Ingin rasanya aku berlari dan meninggalkannya yang sedari tadi hanya mengoceh tentang rumah itu. “Tau nggak Del? Anak yang punya rumah ini ganteng banget, top banget deh, tapi dia udah meninggal, bunuh diri.” Ingin rasanya kusumpal mulutnya dengan kertas tisu atau apapun yang bisa membuatnya berhenti bicara.

            “Oh ya? Kok bisa?” tanyaku antusias, aku berpura-pura tak tahu apa-apa. “Ntahlah, aku juga nggak ngerti orang seganteng Edgar kok goblok banget mau mati bunuh diri.” Ujarnya, kulihat ekspresinya, serius. “Oh iya! Aku lupa. Namanya Edgar.” Sambungnya sebelum aku sempat membuka mulut untuk bicara. Ah! Nama itu lagi!

            Aku memperpendek panjang langkah kakiku. Badan ini pun terasa semakin berat kubawa. Semua itu muncul lagi dalam pikiranku, semua tentangnya dan kejadian di hari itu. Ah! Aku ingin membenturkan kepala ini ke dinding, membuatnya hancur berkeping-keping. Aku tak ingin mengembalikan ingatanku tentang kejadian itu lagi. Kejadian yang membuatku rapuh.

 

            Sebenarnya aku tak tahu rasa ini datang darimana. Itulah yang membuatku sangat sulit menafsirkan arti kata cinta, karena bahkan jalannya cinta pun tak sesederhana air yang mengalir. Dari mata turun ke hati, bisa saja! Dan aku sama sekali tak dapat menjawab bila ada yang bertanya : apa yang tak Edgar miliki? Semua yang kuinginkan ada padanya. Bahkan ia selalu mengusahakan apa yang tak ada padanya, asal itu membuatku bahagia.

            Aku masih ingat betul bagaimana saat dia dan aku bercengkrama, dan aku merasa sebagai orang yang paling bahagia di dunia ini. Tuhan memang luar biasa, Ia telah memberikan lebih dari apa yang aku minta. Dan Edgar adalah salah satunya, satu yang membuat aku merasa sangat beruntung, seolah Tuhan hanya menyayangiku sendiri di dunia ini. Dan tak ada orang lain yang dapat merasakan ini.

            Aku masih ingat betul saat dia memergokiku tengah mencorat-coret tanganku sendiri dengan tulisan namaku dan namanya. Tentu saja. Delia ♥ Edgar. Dan saat itu juga ia tak pernah berhenti tersenyum, juga menertawakan aku. “Kamu ngapain Ondel-ondel? Pabrik buku masih banyak!” ujarnya dengan gelak tawa membahana. Aku hanya tersipu malu, meski aku tahu sebenarnya tentu ia sangat sangat bahagia. Kenangan ini kusimpan dalam memori yang abadi di dalamnya. Tak akan pernah terhapus seiring berjalannya masa.

            Aku masih ingat betul saat bagaimana dia mengantar dan menjemputku dimana dan kemanapun yang aku inginkan. Edgar yang selalu mengerti semua tentang diriku. Dan aku tak pernah bisa berhenti mencintainya. Rasa ini seolah takkan pernah habis. Aku bagaikan ketergantungan akan dirinya. Kecanduan. Dan aku akan merasa sakau bila tak ada dirinya. Rasa cinta ini sungguh sangat-sangat berlebihan. Karena memang hingga saat itu aku tak berhasil menemukan alasan untuk tidak mencintainya.

            Julio menatapku nanar. Sungguh aku tak sanggup membalas tatapan mautnya itu. “Jadi sampai sekarang kamu masih belum ada kepastian?” tanyanya membuat dadaku sesak. “Ah? Belum. Makasih ya. Hati-hati di jalan!” kataku cepat-cepat karena aku semakin tak sanggup menatapnya kembali. Dengan ekspresi kecewa ia pergi mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi.

            Julio, Oh.

            Edgar meneleponku. “Mau makan siang di luar?” suaranya berat. “Maaf, aku harus bantuin Bella ngerjain tugas.” Kali ini aku kembali menolak ajakannya, untuk ke sekian kalinya dan untuk alasan yang ke sekian kalinya pula. Aku terpaksa berbohong, tapi bagaimana lagi, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sedang dalam tahap menghindari segalanya tentang Edgar.

            Aku tahu apa yang kulakukan adalah salah, namun semua juga tak kulakukan dengan sengaja. Rasa terhadap Julio inilah yang membuatku begini. Ditambah lagi aku tahu bahwa Julio juga memliki perasaan yang sama terhadapku. Dan hingga kini ia masih menungguku. Tepatnya menunggu  berakhirnya hubunganku dengan Edgar.

            Bisa kau bayangkan betapa dilemanya aku ini. Betapa dalamnya aku terperosok ke dalam jurang kebingungan ini. Di satu sisi aku sangat mencintai Julio,namun aku pun tak dapat melepaskan Edgar begitu saja. Tak mungkin bisa! Dan aku tak akan pernah bisa! Bahkan aku pun malu mengakui pada diriku sendiri bahwa aku telah menyakiti Edgar secara perlahan. Ya, karena sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa! Aku hanya bisa menyakitinya diam-diam! 

            Julio lah yang membuat aku tersiksa begini. Namun aku juga tak dapat menyalahkannya secara sepihak, karena aku juga mencintainya. Tuhan, mengapa harus ada Julio? Dan mengapa kau buat aku merasa bosan begini dengan Edgar? Kau membuatku mudah berhubungan dengan Julio, tapi mengapa sulit sekali untuk meninggalkan Edgar? Mengapa, Tuhan? Jawab!

            Happy Anniversary…. Aku sayang kamu My True Love…

            Sender : +628123456789

            Cepat-cepat aku menutup layar ponsel ini. Refleks. Kubaca sekali lagi pesan dari Edgar yang baru saja kuterima itu, dan ku lempar seketika ponselku ke tempat tidur. Kulihat kalender, 14 Januari. Oh, tidak! Pantas saja, dan aku baru ingat. Hari ini adalah hari jadinya hubunganku dengan Edgar. Tepat satu tahun setelah Edgar menyatakan cintanya di depan rumanhku.

            Ponselku berdering lagi. Kulihat, kali ini pesan dari Julio. Ia mengajakku pergi siang nanti tepatnya pukul 14:00. Pukul dua siang. Kau tahu apa yang aku lakukan? Aku paling tidak bisa menolak. Apalagi tentang semua yang berkaitan dengannya. Julio Rafael.

            Satu pesan lagi belum kubaca. Edgar. Ragu-ragu aku membacanya. Ah! Ia mengajakku bertemu nanti siang untuk merayakan hari jadi kami, dan sialnya…….Pukul dua siang! Entah, tak ada sama sekali niat untuk mengiyakan ajakan Edgar. Tapi aku pun tak dapat menolak. Aku tak ingin menghancurkan perasaannya.

            Aku tak kunjung membalas pesan darinya, karena aku bingung. Dan ponselku berdering, kali ini berbeda. Edgar yang menelepon. “Gimana? Aku jemput kamu jam dua siang nanti.” Aku terdiam. Aku tak kunjung mengiyakan, tapi aku tak bilang tidak.  “Sayang?” sambungnya lagi, nadanya terdengar lesu, ia menunggu jawaban dari ku. “Nggak bisa. Aku ada janji.” Desahku.

            “Uhh….” Nadanya terdengar sangat kecewa. “Tapi ini tanggal 14 dan special bagiku, walau mungkin bagimu nggak. Apa nggak bisa meluangkan waktu jam 14:00?” Aku hanya bisa terdiam. Ia nampak memaksa. “Tapi aku nggak bisa, aku ada janji!” Nadaku mulai meninggi. Dan kini gilirannya yang terdiam. “Maaf… Di jam lain mungkin? Jam empat aku bisa. Ingat, 16.00!” sambungku lagi. Ia masih tetap membisu. “Yasudahlah, kapanpun aku bisa buat kamu.” Edgar menutup telepon.

            Aku merasa lega……….

            Julio terdiam. “Kenapa?” kutanya ia sekali lagi. Ia tak kunjung menjawab. “Aku capek nunggu sesuatu yang nggak pasti.” Aku menelan ludah, namun beban yang dibawa masih tertinggal di kerongkongan. “Hari ini aku satu tahun.” Ujarku dengan tatapan meyakinkannya, kalau aku sebenarnya tidak senang dengan hari ini. “Kenapa nggak diakhiri hari ini saja? Aku rasa satu tahun udah cukup”

            “Kamu gila!” bentakku, emosi. Begitu mudahnya ia berkata seperti itu. “Tidak, tapi aku mencintaimu.” Ucapan itu membuatku mereda lagi. Namun aku panas dingin. “Aku tak mungkin menyakitinya di hari special begini.” Desahku. “Kenapa nggak?” ujarnya dingin. Bola mataku berputar, lantas menatapnya tajam. “Maaf. Aku hanya nggak suka hari ini.” ucapnya sambil meneguk minuman mocca yang telah dipesannya.

             “Kamu pikir aku suka?” gerutuku. “Ya, kan hari ini special untukmu dan untuknya. Tapi tidak untukku.” Ujarnya membuatku tak enak perasaan. Julio! Tahukah kamu? Aku tak lagi menyukai hari ini, tanggal ini, semenjak ada kamu! Bahkan sama sekali aku tak mengharapkan hari ini datang!

            16:00

            Dua jam berlalu, aku sengaja tak meminta Julio mengantarku pulang karena aku berjanji akan bertemu dengan Edgar saat ini. Namun ia tak kunjung datang. Berkali-kali kulihat pergerakan jarum jam yang melingkari tanganku ini. Begitu cepatnya waktu menggelinding, semua tak terasa bila kulalui bersama Julio.

            Edgar menelepon. “Maaf aku nggak bisa jemput kamu. Aku batal janji. Aku nggak bisa terus terang, makasih ya sayang.” Suaranya tersendat-sendat, sangat berat. “Halo? Kenapa?” aku mulai merasa tak enak. Apa ia sebelumnya tahu bahwa aku telah jalan bersama Julio?

            “Nggak ada apa-apa. Udah ya, jaga diri baik-baik, Happy anniversary, aku sayang kamu. Kado hari jadi ini aku titipin ke Sammy. Aku……….Aaaaaaaaah!” Telepon terputus. Namun sempat kudengar ia berteriak seperti seorang kesakitan. Aku mulai khawatir. Ada apa sebenarnya? Kenapa harus Sammy? Sammy adalah sahabatnya sekaligus sahabatku.

            Kuputuskan untuk pergi ke tempat kos Sammy dan aku menemuinya. Bukan berniat untuk mengambil kado titipan Edgar, tapi aku ingin tahu ada apa sebenarnya. “Nggak tau. Edgar tiba-tiba datang kesini dan nitipin kado plus surat  ini. Dia balik lagi tanpa ngomong apa-apa. Aneh.” Ujarnya memberitahuku.

            Cepat-cepat kubuka isi surat itu. Namun Sammy nampak tak mau tahu. Ia memeberiku kebebasan untuk membaca surat itu tanpa diketahuinya. Meski aku tahu ia pun penasaran.

Del, Ondel-ondel sayang, Happy Anniversary….

Aku tau sekarang kamu udah cinta sama orang lain, dan kamu tetep jadi cinta sejati aku, cinta mati aku. Jadi, buat apa aku hidup kalau kamu nggak cinta sama aku. Buat apa aku hidup kalo toh orang yang aku “cinta mati” cintanya sama orang lain. Aku selalu berdoa kamu bisa bahagia bersamanya. Meski aku tahu Tuhan belum tentu nerima aku apa adanya, nggak seperti kamu yang pernah cinta sama aku apa adanya.Aku tahu itu

 

            Tubuhku gemetar. Apa maksudnya?

            Mama Edgar tak henti-hentinya menangis. Dan aku pun tak kuasa menahan air mata. Ini salahku? Jelas-jelas ini salahku! Bodoh! Delia kau memang sangatlah bodoh! Bahkan bisa berduaan dengan orang lain saat kekasihmu sendiri terpuruk dan merasa tersiksa karenamu! Karenamu,Delia! Karenamu!

            Maafkan aku Edgar……… Bahkan aku tak menyangka kau bisa melakukan hal sebodoh ini. saat kau ditemukan tergeletak tak bernyawa di kamarmu sendiri, dengan obat nyamuk cair dalam genggaman. Kamu juga bodoh,Edgar! Bahkan kamu lebih bodoh dari aku! Aku sangat menyesal telah membuatmu patah hati, tapi aku tak pernah menyesal dicintai orang bodoh sepertimu. Edgar, kamu sangat bodoh!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s