The Girl Who Sucks Your Blood Chapter 3

Dakotta masih berdiam diri di sudut kelas. Ekspresinya yang datar dan dingin sama sekali tak menarik perhatian siapa pun untuk mengajaknya bicara. Wajah cantiknya selalu ditundukkan, di kedua telinganya menggantung earphone yang tak kunjung dilepasnya meski tak ada musik apa pun yang meraung-raung di telinga, setidaknya itu dapat memberi isyarat pada orang-orang untuk tidak mengganggunya.

“Boleh aku duduk di sini?” gumam seorang anak laki-laki. Dakotta berpura-pura tidak mendengar. “Well, boleh aku duduk di sampingmu?” ujarnya kembali. Dakotta segera mengangkat wajahnya dan mengangguk. Matanya terpaku saat menangkap sorot mata lelaki itu, ia tak bisa mengetahui apa pun tentangnya.

“Melvert.” Ujarnya sambil mencoba menyalami Dakotta. Sayangnya Dakotta masih terperangkap dalam kebingungan untuk merespons apa yang dikatakannya. Apalagi untuk balas menyalaminya, ia tak ingin anak laki-laki ini kedinginan dibuatnya.

Melvert segera meletakkan tas dan segala peralatannya di samping tempat duduk Dakotta. Dakotta tak habis pikir, bagaimana mungkin ia tak bisa membaca identitasnya walau hanya menerka tempat kelahirannya ataupun warna kesukaannya. Dakotta benar-benar heran.

“Aku pergi dulu, ya!” sahut Melvert sambil bergegas meninggalkannya. Dakotta terus memerhatikan langkah kaki anak berambut pirang itu. Dan Dakotta benar-benar tidak bisa menggali apa pun dari apa yang dilihatnya.

Ia segera menyentuh barang-barang Melvert yang ada di dekatnya. Dan lagi-lagi hanya nihil yang ia dapatkan. Dakotta nekat membuka resleting tasnya dan mengambil sebuah buku. Tentu saja buku yang di dalamnya terdapat tulisan tangan Melvert. Telunjuk Dakotta bergerak menyusuri setiap tulisan yang berjajar rapi dalam setiap lembar bukunya.

Garis keturunan warga Belanda, batinnya puas. Akhirnya ia bisa menangkap satu informasi, meski itu tidak terlalu penting. Bahkan Dakotta sendiri bingung mengapa ia begitu antusias untuk mencari segalanya tentang teman barunya itu. Melvert bukanlah seorang vampire seperti yang ia duga, mungkin vampire seperti Dakotta butuh cara-cara khusus untuk mengetahui identitasnya.

Dakotta menoleh ke arah pintu, Melvert memandanginya dan tersenyum. Dakotta menggigit bibirnya. Sungguh ia salah tingkah saat Melverti memergokinya tengah mengobrak-abrik isi tasnya. Dan Dakotta benar-benar khawatir Melvert akan mengira bahwa ia adalah seorang klepto.

Melvert menghampirinya dengan senyuman yang tetap mengembang. Dakotta merasakan ada yang aneh pada dirinya. Melvert punya daya tarik yang kuat, ia berhasil menarik perhatian Dakotta. Tidak, tidak. Aku tidak boleh jatuh cinta kepada manusia, gumamnya dalam hati. Jantungnya berdegup lebih cepat seiring langkah Melvert yang mendekat.

“Astaga, aku salah membawa buku. Ini kan milik Dascehn.” Desahnya dengan nada kecewa sambil memerhatikan buku yang dikeluarkan Dakotta. Dakotta terbelalak. Ternyata buku itu bukan milik Melvert, pantas saja ia bisa membaca pikiran dalam tulisan itu dengan mudah. Ini benar-benar aneh. Dakotta tak habis pikir, siapa sih yang ada di dekatnya ini?!

“Oh ya, aku belum tahu siapa namamu, Cantik.” Lanjut Melvert mengalihkan perhatian. Dakotta mengatur napas panjang, ia memberanikan diri untuk menyalami laki-laki bertubuh atletis yang berdiri di depannya. “Dakotta Wren.” Ujarnya. Melvert segera menyambut uluran tangannya dan ia seolah tak merasakan apa-apa. Tidakkah ia merasakan tanganku yang sedingin es? Pikir Dakotta. Dan Melvert terlihat senang berlama-lama untuk bersalaman dengannya.

Dakotta segera menarik kembali tangannya dan terduduk dalam kebisuan. Melvert melambaikan tangan dan kembali meninggalkannya ke luar kelas. Pikiran-pikiran buruk tentangnya melayang-layang dalam otak Daniella. Aku yakin ia bukan vampire!

Kimberly dan pasukan pecinta fashion yang lain memasuki kelas, seperti biasa, mereka selalu menatap sinis ke arah Dakotta yang tidak mengerti mode pakaian. “Murid baru itu super tampan.” Ujar Dorothy yang kepalanya dikaitkan sebuah bando besar berbentuk telinga kelinci.

“Apakah ia seorang playboy?” sahut Jess. Dorothy mengangkat bahunya. Dakotta memandangi mereka diam-diam. Ia tahu topik pembicaraannya, mereka sedang membahas Melvert. “Mengapa kau bertanya begitu?” Kimberly melotot.

“Kalau ia seorang playboy, mungkin dia bisa memacari kita semua.” Ujar Jess kembali. Mereka semua terkikik. “Dan bagaimana dengan gadis di sudut sana?” cibir Kimberly sambil menatap Dakotta sinis. Dakotta menenggelamkan wajahnya dengan berpura-pura membaca buku, berpura-pura tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.

Dorothy tertawa, telinga kelinci di kepalanya ikut bergoyang-goyang. “Gadis aneh itu? Ia lebih pantas untuk jadi santapan vampire dibanding menjadi pacar Augustus Melvert.”

 

Mr. Andy menyeringai. Ia berhasil menepikan  Volkswagen Polo berwarna hitamnya di muka rumah Riley. “Sudah sampai.” Ujarnya kemudian. Riley masih terheran-heran dibuatnya, ia lantas pergi tanpa mengucapkan terimakasih. Mr. Andy segera melajukan mobilnya dan Riley memandanginya jijik dari jauh. Mungkin saja pria itu pernah tidur bersama Daniella dan mengantarnya pulang.

Riley mendengus dan segera memasuki rumah dengan langkah gontai. Ia tak habis pikir bagaimana mungkin Mr. Andy dapat benar-benar mengantarnya pulang. Kalau Daniella benar-benar mengenalnya, ia akan segera menyemprot dan memusuhinya.

Riley memutar gerendel pintu dan langkahnya tertahan. Matanya seperti akan berpindah posisi saat melihat apa yang Daniella lakukan di sofa. Riley tersenyum kecut dan Daniella tak sempat menyapa adiknya. Riley segera mengangkat jari tengah dan berbalik arah. Ia kemudian berlari menyusuri Seattle di waktu sore dengan kecepatan kilatnya.

Dakotta berjalan menuju rumahnya, kejadian hari ini di sekolah benar-benar menguras otaknya. Semua tentang Melvert membuat kepalanya pening. Vampire macam apa yang tak bisa membaca pikiran manusia?! Dakotta merasa menyesal dan malu. Kalau Riley tahu, ia pasti akan mengolok-oloknya. Sedangkan Daniella akan cuek saja karena ia terlalu sibuk mengurusi mangsanya.

Dakotta menengadahkan wajahnya ke langit, sesuatu berkelebat di udara. Lantas ia melihat barisan cemara yang daunnya bergerak-gerak. Dakotta tahu apa yang terjadi, sudah pasti Riley sedang melakukan sesuatu di atas sana. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya kembali ada yang tidak beres dengan otaknya, cibirnya.

Dakotta membuka pintu. Ia kaget setengah mati saat melihat Daniella sedang bermesraan dengan Smith di sofa. Ia menelan ludah dan menahan sesuatu di mulutnya. Sepertinya Dakotta ingin muntah.

Daniella mengelus pipi Smith, ia lantas mengedipkan sebelah matanya. Dakotta hanya menatapnya jijik, ia masih terdiam di ambang pintu. Sekarang aku tahu, ternyata otak Daniella yang sedang tidak beres, desahnya dalam hati. Ia segera melepas sepatu dan memasuki rumah sambil menutup wajahnya.

“Aku belum cukup umur untuk melihat pemandangan seperti ini.” Geramnya. Daniella hanya terkekeh mendengarnya. “Memangnya kau hafal berapa jumlah umurmu?” ledeknya sambil mengaitkan kembali kancing-kancing kemeja Smith yang terlepas. Smith sudah tak sadarkan diri, ia terlalu mabuk untuk menyadari gadis jelita yang ada di sampingnya mengundang bahaya.

Daniella menyeringai, ia dapat menunjukkan gigi-giginya yang tajam dan mengerikan. Matanya berwarna merah menyala. Nyawa Smith benar-benar dalam bahaya. Sayang sekali Daniella telah membuatnya tak berdaya.

Dakotta dapat merasakan aroma yang berkelebat pada penciumannya. Ia segera membalikkan tubuh dan melihat Daniella telah menancapkan rahangnya di tenggorokan Smith. Ia menelan ludah.

“Kau mau? Umurmu sudah cukup kok untuk melakukan ini.” Daniella kembali menggodanya. Wajah cantiknya belepotan darah yang memancar dari leher Smith. Dakotta hanya mengedikkan bahu dan menatap Daniella miris.

“Kau tahu aku tak suka darah pemabuk!”***

Advertisements

One thought on “The Girl Who Sucks Your Blood Chapter 3

  1. Shinyunyun says:

    Well, gue tau Daniella pasti lagi begitu di sofa tapi gue kaget pas ada ‘mengancingkan kancing-kancing kemeja Smith’ emang perlu ya? -.- Mau dibunuh juga, pakè dirapikan segala, ckckck

    Mr. Andy & Melvert itu pasti juga vampire!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s