Move On ~ 5

Nada-nada cantik terdengar dari dawai gitar yang dipetik jemari Kao, Kao memainkannya dengan sesekali mengeluarkan suara untuk menyanyikan lagu-lagu Bodyslam, grup band favoritnya.  Dipandangnya foto Sheena bersama dirinya di atas meja, Kao tersenyum-senyum sendiri. Foto ini diambilnya ketika Kao dan Sheena pergi merayakan tahun baru di CentralWorld Square. Saat itu Mario tidak bisa ikut bersama mereka karena harus ikut Paman Fung yang akan mendaftarkan Mario ke Kyoto University, Jepang.

Kao tak pernah menunjukkan pada siapapun bahwa ia memiliki kemampuan yang baik untuk bernyanyi dan bermain musik. Kao mahir dalam bermain gitar dan gitar bass, dan Sheena hanya mengetahui itu. Sheena terlalu memuja-muja suara Mario, ia masih menganggap Mario tak ada tandingannya sama sekali.

Dan karena itu Kao tak pernah berani menyanyi di depan Sheena.

Pang seringkali menyarankan Kao untuk mengikuti audisi Thailand Idol –berharap ia bisa menjadi adik seorang penyanyi terkenal, namun Kao selalu menolaknya. Ia merasa tak cukup mumpuni untuk melakukan hal tingkat tinggi seperti itu, ia merasa bermusik itu hanya hobi, bukan bakat yang akan menerbangkannya tinggi.

Kao menghentikan suaranya di petikan gitar yang terakhir, ia lantas menyimpan gitar dalam pangkuannya dan tangannya tergopoh-gopoh mengambil foto yang selalu dipandanginya. Sheena yang mengambil foto dengan pose Kao melingkarkan tangan di pundaknya. Sekali lagi Kao tak bisa berhenti untuk tersenyum.

“Kao!”

Kao tersentak, ia segera menyelipkan foto itu ke dalam saku celananya dan menyahut. Sheena sudah berdiri di depan kamarnya, Kao tidak menutup pintunya.

Mata Sheena bersinar-sinar, senyumnya menahan kebahagiaan yang meluap-luap. Kao dapat melihat itu semua dari cara Sheena memandangnya. Sebentar lagi pasti Sheena akan melompat-lompat kegirangan seperti bola bekel, dan Kao akan menangkapnya.

“Kao! Aku senang sekali! Kau tahu tidak?—“

“Tidak.” Potong Kao yang lalu tertawa. Sheena mendengus dan mengerucutkan bibirnya. “Ih, aku kan belum selesai bicara. Aku punya kabar bahagia!” ujar Sheena sambil mendekat. Kao kembali memainkan gitarnya, mencoba untuk terlihat biasa saja. “Hey kau mau tahu tidak?” Sheena segera merebut gitar dari genggaman Kao.

Sheena bergaya seperti seorang gitaris handal di atas panggung konser, ia menggoyang-goyangkan gitar dengan tangannya sambil mengibas-kibaskan rambutnya yang kemerahan. Kao hanya menertawakan aksi konyolnya itu.

“Kao, Kau tahu kan ayahku bekerja sebagai manager restaurant terkemuka di Korea?” Kao mengangguk. “Ia baru saja memberitahuku bahwa ia ditugaskan untuk menjadi manager di cabang restaurant yang bertempat di Jepang. Itu tandanya ia akan pindah ke Jepang! Yes!” Benar saja, Sheena melompat-lompat kegirangan.

Kao terdiam sejenak. “Lalu? Bagian mana yang membuatku yakin bahwa itu kabar bahagia?” cibirnya segera. Kao segera merebut kembali gitar dari tangan Sheena, kini jari-jarinya memainkan lagu dengan tidak jelas.

Sheena menepuk jidatnya.

“Astaga, Kao! Kau lupa, ya? Suatu hari aku kan bisa mengunjungi ayahku di Jepang dan bertemu Mario lebih cepat. Benar kan?” Sheena membantingkan tubuhnya ke tempat tidur. Kao menelan ludah dan berusaha untuk tak menghiraukan ucapan yang membuat telinganya panas.

Ia hanya memaksa tersenyum.

“Semoga saja.” Timpalnya. “Thank you, Kao!” Sheena memandangnya dengan tatapan berseri-seri. Ia lantas bangkit dan duduk kembali. “Bagaimana kemarin?” Kao memandangnya bingung. “Kemarin?”

Sheena memutar bola matanya. “Bagaimana kencanmu saat mengantar pulang Natt kemarin? Sampai-sampai kau lupa menjemputku.” Sheena terkikik sendiri. Kao menghembuskan napas pasrah.

“Sheena, kemarin aku bukan tidak menjemputmu—“

“Ya, baiklah. Aku mengerti, kemarin hujan deras. Mungkin kau diam dulu di rumah Natt. Ada yang perlu kau ceritakan?” celoteh Sheena kembali. Kao mulai gemas padanya, ia sama sekali tak diberi kesempatan untuk berbicara.

“Apa yang harus aku ceritakan? Aku kan sama sekali tidak—“

“Jirayu!”

Sheena dan Kao menoleh, Pang berhasil menghentikan perdebatan mereka. “Nattasha menunggumu di luar.” Ujarnya dan segera meninggalkan mereka. Kao terbelalak dan Sheena tersenyum puas. Merasa menang atas segala-galanya.

“Kalau kau tidak mau cerita, biar aku bertanya langsung pada Natt.” Ujar Sheena sambil menjulurkan lidah, ia segera berlari ke luar dan Kao mengejarnya.

Natt sudah berdiri di depan pintu, ia menatap ke segala sudut pekarangan rumah Kao. Sheena berlari ke arahnya, Kao menyusulnya dari belakang.

“Natt!”

Nattasha membalikkan tubuhnya, Kao dan Sheena bisa melihat jelas sosoknya yang sangat rupawan. Natt datang dengan menggunakan white dress dan rambut panjangnya indah terurai. Ditangannya terdapat dua kotak persegi panjang.

Natt pikir Kao akan datang sendirian, namun kenyataannya Sheena sudah seperti bayangannya. Di mana ada Kao di situ pasti ada Sheena. Dan Natt tak tahu bagaimana caranya bisa menggantikan posisi Sheena. Jelas tidak mungkin.

“Sepertinya kencanmun dilanjutkan hari ini, Natt. Katakan padaku apa yang telah terjadi kemarin!” kata Sheena segera ketika ia berhasil mendarat di depan Natt, Kao masih berusaha untuk membungkam mulutnya namun tidak berhasil.

“Kencan?” Natt mengerutkan keningnya. Ia mengerti apa yang ditanyakan Sheena, hanya saja tak mungkin bagi Natt untuk menyebutnya sebagai kencan. Dan Natt tak mungkin menceritakan luapan perasaannya di sini.

“Huh, sepertinya kalian berdua sudah bersekongkol untuk tidak memberitahuku. Lupakan saja!” Desah Sheena. Ia segera melotot saat Kao menjambak bagian belakang rambutnya.

“Kao, aku ingin berterimakasih karena kemarin kau telah mengantarku pulang. Ini ada satu kotak  chocolate brownies untuk Pang dan ibumu, dan satu kotak lagi untukmu.” Ujarnya sambil tersenyum. Kao segera menerimanya dan balas tersenyum. “Merepotkanmu, Natt.”

Natt segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Sheena mengedipkan sebelah matanya. “Boleh aku mencobanya, Natt?” ujar Sheena.

“Tanyakan pada pemiliknya.” Natt terkekeh. Sheena mengangkat sebelah alisnya pada Kao dan Kao hanya mengangguk. Ia segera mencomot sepotong brownies dari dalam kotak dan melahap gigitan pertama.

“Aku membuatnya sendiri, maaf kalau rasanya aneh.” Natt menunjukkan ekspresi tidak enak. “Tidak. Tidak. Ini luar biasa, Natt. Lebih enak dari brownies yang dijual di Neil’s Tavern Bakery.” Puji Sheena. Nattasha hanya tersipu.

“Kau harus mencobanya.” Ujar Sheena sambil menyuapi Kao dengan brownies yang telah digigitnya. Pemandangan tak indah bagi Natt yang berdiri di hadapan mereka. Kao melahapnya dan tersenyum. “Rasa yang sempurna.”

Natt mencoba menunjukkan ekspresi riang.

“Baiklah, aku akan memberikan ini pada Pang.” Kao segera masuk kembali dengan membawa kedua kotak brownies pemberian Natt. Sheena hanya memandanginya datar sambil tetap menjepit gigitan terakhir brownies itu dengan kedua jarinya.

“Natt, cepat makan!” ujarnya sambil menjulurkan brownies itu. Natt menggeleng dan menatapnya bingung. “Kau tahu kalau makanan itu akan terasa sangat nikmat pada gigitan terakhir?” ujar Sheena. Natt mengangguk namun masih belum bisa menyembunyikan kebingungannya.

“Dan selain ini gigitan terakhir, ini adalah bekas gigitan Kao. Ayo makanlah!” Sheena kembali memaksa. Natt terhenyak, matanya menerawang ke dalam rumah, Kao sedang berjalan kembali pada mereka. Ia buru-buru melahap brownies itu dan segera menelannya.

Natt lantas tersenyum pada Sheena.

“Kau benar. Gigitan terakhir memang selalu terasa nikmat.”

Advertisements

2 thoughts on “Move On ~ 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s