Move On ~ 4

“Sheena, ayo masuk! Sepertinya Kao masih tidur.” Sambut Ibu dengan ceria saat melihat Sheena berdiri di depan pintu. Sheena hanya tersenyum dan terlihat berpikir, “Boleh aku mengganggunya, Bu?” ujarnya sambil menjulurkan lidah. Ibu hanya tertawa dan segera mempersilakannya masuk. Sheena sangat diterima baik di rumah Kao, begitu pula sebaliknya.

Sheena mengetuk pintu kamar Kao sekali, dua kali, namun tak ada sahutan dari dalam. Sepertinya Kao benar-benar tertidur pulas. Sudah siang begini Kao masih mendekam dalam kamar, ia pasti tidur larut malam. Pikirnya.

“Dobrak saja, kalau perlu berteriaklah ada kebakaran.” Celoteh Pang yang sedang asyik menyaksikan infotainment, Sheena hanya menanggapinya dengan tawa. “Jirayu, bangunlah!” teriak Sheena sambil menggedor-gedor pintu.

Kao membuka mata perlahan namun ia memutuskan untuk memejamkannya kembali. Teriakan di luar masih terdengar samar-samar di telinganya. Namun cukup mengganggu istirahatnya di hari Minggu. “Jirayu Laongmanee! Kao!” teriak orang itu dari luar, cukup memekakan telinga. Ingin rasanya Kao menyumpal telinganya dengan sesuatu dan bergerak tidur kembali, namun ia tidak ingin seseorang menjebol pintu kamarnya dengan ketukan-ketukan pintu yang mahadahsyat.

“Jirayu tampan, buka dong!” teriak orang itu kembali. Kao bisa mengenalnya sebagai suara seorang perempuan, namun ia masih belum bisa menerka suara itu milik siapa. Yang pasti bukan Pang, teriakan Pang akan lebih mirip ledakan petasan.

Kao tak jua merespon, kedua matanya seperti dipasang perekat dan sangat sulit bagi Kao untuk membukanya. Tubuhnya terasa berat dan lemah, nyaris tak ada energi sama sekali untuk bangkit dari tidurnya.

Sheena memutar gerendel pintu dan membukanya, ternyata Kao sama sekali tak mengunci pintu kamarnya. Sejenak ia ragu untuk masuk ke dalam, karena Sheena tidak pernah memasuki kamar Kao sebelumnya. Sheena tidak pernah memasuki kamar anak laki-laki, kecuali Top, sepupu laki-lakinya yang masih duduk di kelas M-1.

“Kao!” bentak Sheena dari dalam kamarnya. Kao membuka matanya secara paksa. Ia hafal suara itu, suara Sheena. Kao segera bangkit, energinya seperti telah terisi penuh. Ia segera mengucek mata untuk memastikan bahwa yang ada di depannya adalah Sheena. Dan ia memang tidak salah menduga.

Sheena tertawa melihat Kao yang masih setengah sadar, rambutnya awut-awutan, namun ia berusaha bangkit untuk duduk walau dengan malas-malasan.

“Astaga, Sheena.” Desahnya menggerutu. Sheena lagi-lagi tertawa puas. Ia senang bisa menjahili Kao, walau dalam hatinya menyesal telah merenggut waktu istirahatnya. Sheena mendekat dan duduk di atas tempat tidur, di samping Kao. Kao hanya memandanginya dengan keheranan.

“Kau tidak takut berada di dalam kamar anak laki-laki?” godanya, Kao nampak lebih segar dari sebelumnya, padahal ia belum beranjak untuk mencuci muka. “Memangnya kau mau apa?” cibir Sheena.

Kao hanya tertawa, Sheena senang melihat lesung pipinya. Kao memang sangat menarik, tapi Sheena tak lebih dari sekedar menganggapnya sahabat. Dan mengetahui itu adalah pukulan telak bagi Kao, meski Sheena tak pernah membicarakannya.

“Kau mau aku melakukan apa?” Kao kembali menggodanya. Sheena langsung mendorong kepalanya dengan tangannya dan mendelik. “Tenang saja, aku tidak bernafsu dengan gadis galak sepertimu.” Ledek Kao tanpa bermaksud melecehkannya, ia dan Sheena sudah terbiasa untuk berbicara seenaknya. Sheena hanya membalasnya dengan cara memelototinya dan mencubit perut Kao hingga ia meringis kesakitan.

“Aku bosan di rumah, diam hanya akan membuatku ingat terus pada Mario. Temani aku menonton, yuk?” bujuknya. Kao hanya memandanginya dan memegangi perutnya. Sakit memang, namun semuanya terasa hambar karena Sheena yang melakukannya. Cubit aku terus, Sheena! Jangan melepaskannya! Batinnya geli.

“Ayolah, Kao sayang!” Sheena menarik tangannya dan mendorongnya menuju kamar mandi. Memaksanya. Kao hanya bisa bersungut pasrah, namun ia sama sekali tidak menyesali mengapa Sheena menganggu tidurnya.

 

“Thanks karena kau mau menemaniku menonton film ini, Kao.” Ujar Sheena sambil terus berjalan di samping Kao, mereka baru saja meninggalkan SF Cinema City di Central Ramintra ini. Sheena sengaja mengajak Kao untuk menonton Rak Sud Tai Pai Na, film yang sangat ditunggu-tunggunya, dan Sheena tak mungkin meminta Mario untuk menemaninya.

Sebenarnya Kao tak terlalu menyukai film drama pilihan Sheena, dan sepertinya selama berada di dalam SF Cinema City yang ditontonnya hanyalah raut wajah Sheena.

Sheena nampak semakin lucu dengan simple T-shirt berwarna kuning dipadu short jeans berwarna biru tua. Dan penampilan Kao yang cool cukup menarik perhatian pengunjung Central Ramintra—salah satu department store terbesar di Bangkok. Mereka pasti berpikir Kao dan Sheena cocok satu sama lain.

“Sheena, aku lapar.” Sergah Kao. Sheena memandanginya dan kemudian tertawa. “Kau ingin makan apa, Anakku?” ujarnya mencibir. Kao menyunggingkan senyum puas. “Terserah kau saja, Mama.” Sheena segera mendorong tubuhnya, lalu tawa menyeruak di antara mereka.

Kao sungguh sangat menikmati hari ini, hari di mana ia bisa menghabiskan waktu bersama Sheena. Hal ini sudah jarang dilakukannya sejak Sheena lebih sering berjalan dengan Mario. Kao hanya diberi waktu beberapa saat untuk jalan bersama. Dan saat Mario tak ada, sepertinya perhatian Sheena akan kembali terfokus padanya.

Bukan berarti Kao senang dengan kepergian Mario, bukan berarti Kao akan menggeser posisi Mario di hati Sheena. Kao tidak yakin ia bisa melakukannya. Kao hanya bisa senang karena Sheena kembali meluangkan waktu untuk bersama dengan sahabatnya. Sahabat yang merindukan masa-masa bersamanya, sahabat yang memendam sesuatu terhadapnya.

Mereka berjalan ceria menuju salah satu food court yang berada di lantai atas Central Ramintra, keasyikan menghinggapi keduanya. Kao melingkarkan tangannya ke pundak Sheena, Sheena menikmatinya. Dan Kao menikmati sensasi tersendiri.

“Sheena!”

Kao dan Sheena menoleh ke belakang. Ramchamang, Khung, Mew, Pyang, dan Nattasha berdiri di belakang mereka. Khung merangkul gitar bassnya. Khung dan Ramchamang pun sama, membawa gitarnya masing-masing.

“Hey, Rebellon!” sapa Sheena sambil bergerak mendekati mereka. Rebellon adalah band yang dibentuk lima sekawan itu. Ramchamang dan yang lainnya menyalami Sheena, namun Natt hanya memfokuskan pandangannya pada Kao.

“Natt?” gumam Sheena, ia lantas tertawa saat menyadari bahwa Natt sedang terpaku menatap Kao. Kao turut berjalan ke arah mereka, Natt segera tersadar untuk membalas sapaan Sheena. “Hai, Sheena.”

“Kalian akan pergi ke mana?” Tanya Pyang. “Dia lapar.” Sahut Sheena sambil menunjuk Kao. Kao kini berdiri dan bergabung bersama mereka. Debaran jantung Natt menjadi tak karuan, ia tak ingin sedetikpun memandang Kao, kecuali ia ingin mengulangi rasa sakitnya kembali.

“Mario sudah sampai di Jepang?” kini Mew angkat bicara. “Sepertinya sudah.”

“Natt, kau juga akan pergi mencari makan, kan? Sebaiknya kau ikut dengan mereka, kami lebih baik pulang duluan.” Ujar Khung. Natt terhenyak dan bibirnya terlihat bergetar. Ia terlihat sangat salah tingkah. Kao masih tak enak hati melihatnya, Natt pasti menjadi paranoid seperti ini karenanya.

“Apa kalian ingin aku merusak acara mereka?” Natt mencoba memprotes. Ia masih belum siap untuk berhadapan dengan Kao, Natt masih harus belajar banyak untuk tidak merasa sakit di dekatnya. Sering terlintas dalam benaknya ingin menjadi Sheena yang bisa pergi ke manapun dengan Kao, tapi jelas Natt hanya bisa berharap.

“Tidak, Natt. Sepertinya dengan kau makan siang kami akan lebih seru.” Kao memberanikan diri untuk berbicara padanya, meski wajahnya menampilkan perasaan bersalah. Semua terlihat dari sorot mata dan gelagatnya yang sedikit canggung pada Nattasha.

Natt mendongak tak percaya. Dan setelah itu anak-anak Rebellon benar-benar meninggalkannya bersama Kao dan Sheena.

 ***

“Ada agenda baru bersama Rebellon? Aku jarang melihat kalian pergi latihan bersama.” Tanya Sheena. Natt, Sheena, dan Kao telah selesai menikmati makan siang dan segera meninggalkan food court tersebut untuk beranjak pulang.

“Bulan depan kami akan menjadi bintang tamu di acara pemilihan top model MagazineDee.” Jawabnya, perasaan Natt kini jauh lebih baik. Kao sama sekali tak menghindarinya, ia bisa menerima kehadirannya di tengah-tengah mereka.

“Ya, aku tahu Rebellon memang hebat.” Puji Kao. Nattasha tersipu dan Sheena hanya bisa menertawakan tingkahnya. Tak sadar kini mereka telah berada di pelataran luar Central Ramintra. Langit biru muda sedikit membuka topengnya hingga sebagian berwarna kelabu, sebentar lagi akan turun hujan.

“Kao, sebaiknya kau mengantar Natt pulang.” Gumam Sheena. Kao dan Natt terperangah mendengarnya. “Tidak, Sheena. Kau yang datang bersama Kao. Aku bisa pulang sendirian.” Sanggah Nattasha.

“Aku tidak mungkin membiarkanmu pulang sendirian.” Ujar Kao segera, seolah membenarkan perkataan Nattasha. Natt menunduk lesu, ia tahu sampai kapanpun ia tak boleh berharap banyak.

Sheena melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangan Kao, waktu masih menunjukkan pukul 5 sore. “Kao, aku bisa menunggumu di sini kalau Kau tidak keberatan untuk kembali ke sini.” Kata Sheena. Natt dan Kao saling berpandangan.

“Kalau kau tidak bisa, tidak apa-apa. Yang terpenting pastikan Natt pulang dengan selamat. Aku tak ingin terjadi sesuatu pada vokalis Rebellon.” Ujar Sheena sambil terkekeh. Kao mengangguk dan segera pergi ke gedung parkir untuk mengambil sepeda motornya.

Sepeninggal Kao, Natt mencubit pipi Sheena dengan gemasnya. “Terimakasih, Sheena. Kau memang yang terbaik. Kalau tak ada kau, sampai kapanpun aku takkan pernah bisa pulang bersama Kao.” Gumamnya bangga. Sheena tersenyum lega.

Kao telah siap untuk mengantar Natt pulang, walau dalam hati sebenarnya Kao tak menduga apalagi menginginkan ada momen seperti ini. Tapi Kao tak bisa menolak, Natt harus pulang dengan selamat adalah tanggung jawabnya.

“Aku tak akan lama.” Ujar Kao sedikit berteriak. Sheena tersenyum dan mengangkat ibu jarinya.

 

“Terimakasih, Kao.” Desah Natt malu-malu. Ia lantas turun dari boncengan motornya. Kao hanya membalasnya dengan senyuman. Tentu ia ingin lekas pergi dan tak mau membiarkan Sheena menunggu terlalu lama. Macetnya perjalanan ke rumah Natt memakan waktu sekita lima belas menit, cukup menjengkelkan. Bangkok tak biasanya seperti ini.

Kilatan petir menyapa penglihatan mereka. Natt segera memejamkan matanya karena ketakutan. Rintik hujan menyerbu Bangkok detik itu juga. Dan Kao kesal setengah mati dibuatnya. Ia segera menepikan sepeda motornya dan berteduh sejenak di muka rumah Natt. “Aku tidak mengira akan turun hujan.” Gerutunya.

Natt sangat menikmati posisi Kao yang berdiri di sebelahnya. “Untung saja aku sudah memastikan bahwa vokalis Rebellon pulang dengan selamat.” Lanjut Kao. Natt tersenyum-senyum di balik tudung jaketnya. Hujan ini sedikit membawa berkah baginya.

Tidak terasa lima belas menit menit berlalu, hanya untuk menunggu meredamnya serbuan hujan.

“Kao, sebaiknya kita masuk. Hujan turun semakin deras.” Tawar Natt. Ia masih setia mendampingi Kao yang sudah basah kuyup. “Kau saja, Natt. Sebaiknya aku pergi sekarang, Sheena sudah lama menunggu.”

“Kau yakin? Kau tak mungkin membawa pulang Sheena dalam keadaan hujan begini!” Natt mengingatkan. Nattasha benar, pikir Kao. “Ayo masuk!” ujar Natt sedikit memaksa. Kao kembali menolak. Natt mendengus kecewa, ia hanya tak ingin Kao sakit setelah mengantarnya pulang.

“Natt, aku benar-benar harus pergi. Sampai nanti.” Kao segera pergi dan mengemudikan sepeda motornya. Nattasha memandanginya hingga jauh, ia hanya bisa berbisik pada hatinya untuk mengatakan “Hati-hati, Kao!”.

Sheena terus menatap layar ponselnya, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 6 dan Kao belum juga kembali menemuinya. Sheena mengerti seandainya Kao tidak kembali, hujan turun dengan derasnya. Ia tidak ingin Kao memaksakan untuk menjemputnya.

Kao, aku pulang dengan taksi saja. Jangan menjemputku, di sini hujan deras!

Sheena menekan tombol SEND pada ponselnya dan segera berlari untuk menyetop taksi.

Kao memasuki rumah dengan terburu. Ia tak menyempatkan untuk mengganti pakaiannya yang basah kuyup. Ia nekat memasuki kamarnya dengan cucuran air walaupun Ibu telah berteriak memanggil-manggilnya. Kao segera membuka lemari untuk mengambil jaket tebalnya dan segera memasukkannya pada sebuah kantong plastik. Tak lupa ia juga membawa jas hujan untuk pengendara motor, biasanya Kao paling malas untuk membawanya walau hujan deras menghadang.

“Kao, mau ke mana lagi?” Tanya Ibu resah saat menemukannya terburu-buru melakukan sesuatu di dalam kamar. Air bergenang di mana-mana. Ibu menggeleng-gelengkan kepala.

Kao segera menyimpan ponselnya di atas tempat tidur dan menyalami Ibu. “Aku pergi sebentar.” Ujarnya sambil berlari. Kao segera memutar kunci motor dengan rusuh lalu melajukannya dengan tak karuan.

Kao menghentikan laju motornya di pelataran luar Central Ramintra, namun Sheena sudah tak ada di sana. Kao memandang ke segala penjuru, ia tak menemukan sosok Sheena. Dipandangnya jaket dan jas hujan yang dibawanya, semuanya untuk digunakan Sheena. Kao tidak peduli bagaimana basah kuyup dirinya.

Semoga saja air hujan tidak mengguyur tubuhnya, harapnya dalam hati.

Kao kembali memasuki rumah dengan wajah pucat dan tubuh yang menggigil. Ibu sudah menunggunya dengan harap-harap cemas. “Ganti bajumu!” perintahnya karena khawatir. Kao segera mengangguk dan berlari ke kamarnya.

Angin benar-benar menusuk tulangnya. Pandangannya sudah kabur dan lututnya sudah tak kuat untuk berdiri. Kao membantingkan tubuhnya ke tempat tidur. Lemas rasanya namun setidaknya ia dapat bernapas lega saat melihat sesuatu di layar ponselnya.

 Kao, aku pulang dengan taksi saja. Jangan menjemputku, di sini hujan deras!

Advertisements

One thought on “Move On ~ 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s