Move On ~ 3

Sheena berjalan terkatung-katung, berharap ia tidak terlambat dan menyesal seumur hidupnya. Langkah cepatnya gontai hingga tak sadar dirinya sudah berlari. Matanya liar mencari-cari sesuatu ke segala penjuru Suvarnabhumi Airport. Mencari Mario.

Kao berlari menyusul dirinya, ia tahu Sheena terlalu panik untuk mencari Mario sendirian. Seharusnya ia datang sejak sepuluh menit yang lalu bila ingin bertemu Mario, sepuluh menit akan sangat berarti menjelang waktu pesawat lepas landas dengan tepat waktu.

Dan sepertinya Sheena telah melewatkan kesempatan terakhir untuk bertemu Mario.

“Sheena!” Kao berhasil meraih tangannya dan menghentikan langkah Sheena. Semburat penyesalan terpancar dari senyumnya yang meredup. Kao tahu, ia sangat berharap bisa bertemu dengan Mario sebelum keberangkatannya ke Jepang. Dan kenyataan pahit yang harus diterimanya adalah benar-benar melewatkannya.

“Kita terlambat. Aku takkan bisa bertemu Mario.” Desahnya. Sheena berusaha untuk tidak menangis. Ia sadar tak ada yang perlu ditangisi, Mario telah berjanji untuk kembali.

Kao menarik napas panjang. Tak ada yang bisa dikatakannya. Lidahnya selalu terasa kelu setiap mendengar perkataan Sheena yang menunjukkan bahwa ia tidak ingin kehilangan Mario. Dan Kao hingga saat ini masih setia menjadi sahabat terbaik yang selalu mendengarkan cerita Sheena, mesti dibalik itu semua ada hati yang terluka.

Ia tahu bagaimana rasanya mencintai, dan ia menghargai perasaan Sheena terhadap Mario. Cinta memang tidak pernah baik untuk dipaksakan. Begitu pula cinta Kao kepadanya hanya bisa tersimpan.  Kao percaya suatu saat Sheena akan mengetahui segalanya. Ia hanya percaya sesuatu akan indah pada waktunya. Suatu saat.

“Baiklah, Kao. Sepertinya kita harus pulang.” Gumam Sheena kecewa. Ia telah mengawali langkahnya dan mengambil ancang-ancang untuk pulang. Kao segera menarik tangannya, alisnya bergerak-gerak mengisyaratkan sesuatu. Dan saat Sheena membalikkan tubuhnya, Mario ada di depan matanya.

Sheena segera menghambur dan memeluknya. Mario tersenyum penuh maksud, Sheena membuatnya semakin tidak siap untuk kehilangan. Kao hanya bisa mematung di belakang mereka, sedikit merasa terabaikan. Mario kemudian melangkah mendekatinya, Kao adalah teman terbaik yang ditemukannya di SMA, selain Kao adalah sahabat sejati Sheena.

“Aku menitipkan Sheena padamu.” Ujarnya sambil menepuk pundak Kao. Kao tidak menunjukkan reaksi apapun, ia hanya melihat pada Sheena yang sedang memerhatikan mereka. “Dan aku harus menitipkan kau pada siapa?” godanya. Mario tersenyum lega.

“Kao, aku sudah lulus SMA. Sudah legal untuk menonton hot film dan aku bisa menjaga diriku sendiri.” Kao hanya tersenyum. Sheena tertawa kecil dengan tetesan air berguling-guling dari matanya. Entah kapan lagi ia akan menemukan suasana seperti ini.

“Aku tidak tahu kau akan berangkat hari ini.” Sheena kembali terisak. Ia gagal menyembunyikan kesedihannya. “Bibi Pond mempercepat keberangkatanku dan aku tidak bisa menolak.” Balasnya. Sheena kembali menatapnya serius, ia seharusnya bisa bernapas lega karena Tuhan telah memberinya kesempatan untuk bertemu dengan Mario di menit-menit keberangkatannya.

Aku akan sabar menunggunya kembali padaku. Batinnya dalam hati.

Kao masih terdiam, memperlengkap keheningan yang tercipta di akhir perpisahan mereka. Ia hanya bisa berbisik Aku akan sabar menunggunya berpaling padaku dalam hatinya sendiri, sangat tidak mungkin untuk mengucapkannya di waktu-waktu sakral seperti ini.

“Yeah, selamat tinggal. Aku akan merindukan Amatyakul, Bangkok, dan juga kalian.” Ujarnya terbata. Ada suatu kepedihan mengganjal tenggorokannya. Mario segera berlalu dan Sheena hanya bisa menangis di balik punggungnya. Mario berjalan semakin menjauh, meninggalkan Sheena dan Kao, dan semua jejak kehidupan mereka semasa SMA.

“Aku akan menjaganya di sini.” Ujar Kao setengah berteriak. Mario memalingkan wajahnya kembali dan tersenyum. Mungkin ia bisa melangkah meninggalkan Thailand dengan tenang.

Sheena menggenggam tangan Kao erat, Kao hanya bisa memandanginya. Jelas ia tidak ingin melepaskannya, tapi ia harus sadar, Sheena hanya menganggapnya sebagai kakak sekaligus sahabat. Tidak lebih dari itu.

Sheena membuang napas pasrahnya, ia lalu memandang Kao lekat. “Ayo pulang!”

“Kao, darimana?” sambut Ibu dengan resah. Kao hanya tersenyum dan melangkah terburu untuk menyimpan helm di tempat ia biasa menyimpannya. “Aku tidak tahu kemana Kao akan pergi selain menemui Sheena. Bahkan aku tak yakin ia memiliki teman lain selain Sheena.” Ujar Pang menimpali dari belakang Ibu. Kao segera memelototinya dan berniat melemparinya dengan sepatu, namun Ibu terlebih dahulu mengantisipasi pertarungan yang akan terjadi.

“Kau selalu bersamanya sejak dulu, tidak bosan?” candanya. Wajah Ibu merona, ia masih sangat terlihat cantik di usianya yang menginjak kepala empat. “Sahabat sejati, Bu.” Balas Kao dingin. Ibu dan Pang terkekeh, selalu saja Kao menjawab seperti itu bila ditanya mengenai Sheena.

“Kupikir kalian berpacaran.” Komentar Pang. Kao tertegun mendengarnya, ada sesuatu meletup-letup dalam batinnya. Sejenak ia hanya bisa diam dan memikirkan perkataan Pang, namun itu sama sekali tidak ada benarnya. Ia tahu Pang hanya bergurau.

“Ibu pikir kalian cocok satu sama lain, sudah mengenal dekat sejak kecil dan tak terpisahkan hingga saat ini.” Ibu menambahkan. Perasaan Kao semakin tak karuan. “Ibu, aku dan Sheena hanya bersahabat saja. Kau sudah mengenal Sheena sejak dulu, kan?”

“Ya, baiklah. Ibu mengerti kekhawatiran anak muda dengan persepsi cinta akan merusak persahabatan.” Ujarnya kembali. Kao hanya mendengus, ia hanya memaksakan tersenyum dan mengambil helmnya kembali. “Hey, mau kemana? Kau baru saja pulang.” Sanggah Ibu.

“Menemui teman-temanku, selain Sheena.” Ujar Kao sambil mengangkat sebelah alisnya, tentu saja senyuman menantangnya ditujukan kepada Pang. Pang hanya membalasnya dengan mencibir. “Pergi sajalah!” ujarnya sebal.

Kao berjalan keluar rumah, ia sudah bersiap untuk mengemudikan sepeda motornya meski tak tahu akan pergi ke mana. Benar kata Pang, sepertinya yang harus Kao tuju hanyalah rumah Sheena, rumah Sheena, dan rumah Sheena.

“Kao!” Seseorang menepuk bahunya dari belakang. Kao segera menoleh dan terhenyak saat melihat Nattasha sudah berdiri di belakangnya. Kao melepas helmnya kembali.

“Natt? Ada apa?”

Nattasha hanya diam dan tersenyum. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu namun tertahan. Keraguan tersirat di matanya, Kao tak tahu seberapa berat beban yang menyumpal mulutnya hingga ia tak bisa berbicara. Kao tahu Natt suka padanya, dan Kao tahu bagaimana rasanya berhadapan dengan seseorang yang dicintainya, meski saat bersama Sheena ekspresinya terlihat biasa saja.

“Aku ingin memberitahu sesuatu padamu.”

“Baik, masuklah.” Ujar Kao sambil mengajaknya ke dalam rumah, namun Natt menolak.

“Kao, aku—Aku menyukaimu, mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu di Amatyakul, dulu kita sekelas di kelas M-4, dan aku masih menyimpan rasa suka itu hingga saat ini. Aku sudah berusaha menahan segalanya, dan aku benar-benar berhasil menjalankan rencana untuk memberitahumu di akhir sekolah.” Ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca. Kao hanya bisa memandanginya. Ada sedikit perasaan bersalah. Kao tahu ia tidak bisa membalas perasaannya.

“Natt—“

“Aku tidak mengharapkan apapun darimu. Hanya ingin kau tahu dan mengerti bahwa ada seseorang yang menyayangimu. Mengawasimu dari balik pohon, menyanyikan lagu-lagu cinta bersama Khung untukmu, menyampaikan salam melalui teman-teman dekatmu dengan inisialku Miss X. Bodohnya aku.” Natt mencoba untuk tertawa, namun yang terjadi adalah wajahnya bergelinang air mata.

Kao menelan ludah dan memicingkan matanya. Ada napas sesak memenuhi paru-parunya. Kao mengerti bagaimana rasanya mencintai orang lain, secara diam-diam. Dan jelas ia mengerti apa yang sebenarnya Natt inginkan, hanya saja ia tak yakin bisa memenuhinya.

“Aku pikir kau dan Khung berpacaran.” Ujarnya mencoba mengalihkan perhatian dan mencairkan suasana. Natt tersentak mendengarnya. Jelas saja Kao hanya bergurau, ia sudah tahu sejak lama bahwa Natt menginginkannya. “Aku dan Khung berteman sejak kecil, jadi sangat tidak mungkin bagi kami untuk pacaran, walaupun Khung sudah bilang padaku bahwa ia mengagumiku sejak lama. Dan kami baik-baik saja sampai saat ini.”

Ada harapan yang kembang-kempis dalam benak Kao.

“Kau mau melanjutkan ke universitas mana?” Kao benar-benar mengalihkan pembicaraan. Ia tidak kuat berlama-lama bicara mengenai perasaan. Ia tahu bagaimana sakitnya cinta tak terbalaskan. Dan ia ingin Natt segera melupakan cinta yang tak bisa dibalasnya.

“Ah? Aku sudah diterima di Kasetsart University.” Jawab Natt dengan nada lesu. Ia menyesal mengapa Kao tak membahas mengenai apa yang telah diungkapkannya. Natt mengerti mungkin cintanya bertepuk sebelah tangan. Sudahlah, bukankah yang aku inginkan hanya Kao mengetahui perasaanku? Batinnya. Pesimis.

“Wah, Natt. Kita akan bersama-sama lagi. Aku dan Sheena juga melanjutkan ke sana.” Kao tetap berusaha mencairkan suasana, ia ingin Natt sejenak melupakan perih yang dibuatnya. Natt hanya tersenyum di balik kepedihannya, bila Kao tak ingin membahas perasaannya, sebaiknya ia pergi.

“Mmm… Kao, mungkin ada yang ingin kau utarakan kepadaku?”

Kao terperangah. Ia tidak tahu harus berkata apa, gigi-giginya terasa rapat dan ia tak bisa membuka mulut. Kao akan menjadi pengecut bila tak bisa memberitahu yang sebenarnya kalau ia tidak bisa membalas cintanya, namun di satu sisi ia tidak ingin mematahkan hatinya secara langsung. Dan Kao lebih memilih bertahan dengan kepengecutannya.

“Tak apa, Kao. Aku mengerti. Aku juga tidak ingin cintaku merusak persahabatan kita. Aku harus pulang, aku hanya memberitahu Ayah untuk pergi ke rumah Kwan sebentar.” Ujar Natt dengan suara yang terdengar serak. Ia segera memunggungi Kao dan berjalan menjauh dengan langkah gontai. Lelehan air mata membanjiri wajahnya.

Kao tahu apa yang terjadi. Ia bisa merasakan bagaimana menjadi Natt. Namun sudah terlambat, Natt sudah berjalan menjauhinya. Ia hanya berusaha memanggilnya dengan tubuh yang belum luwes untuk digerakkan kembali. Natt sudah membuatnya membatu. Esok, ia harus meminta maaf pada Nattasha Nauljam.

“Natt! Nattasha!”

Advertisements

2 thoughts on “Move On ~ 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s