Move On ~ 2

Sudahlah, Sheena! Kumohon berhenti menangis! Batinku, aku tak mungkin dapat mengutarakannya. Aku tahu bagaimana rasanya hati dipatahkan. Dan aku tahu bagaimana sakitnya bila cinta bertepuk sebelah tangan. Jadi, aku tak mungkin bisa memaksanya untuk berhenti bersedih.

Aku tahu Sheena sangat mencintai Mario. Ya, aku tahu itu dan aku mencoba untuk menoleransinya. Walau harus merasa sedikit sakit di dalam. Siapa sih yang tidak sakit bila melihat orang yang dicintai berbahagia dengan orang lain? Tapi aku percaya, itu akan jauh lebih baik dibanding dia yang ku cintai tidak berbahagia dengan diriku sendiri. Apa boleh buat, kebahagian Sheena adalah kebahagianku juga. Dan saat melihat Sheena bersedih seperti ini, aku tak mungkin diam saja.

“Kao, Aku—Aku tidak pernah merasa sebegini sakitnya. Aku yakin Mario tidak bermaksud menyakitiku, tapi… Ah!” lagi-lagi ia bergumam dengan bibirnya yang basah terguyur air mata. Aku hanya bisa memandanginya, di dalam pun aku merasa ikut terluka.

“Sheena, sudahlah. Cinta tak harus memiliki, kan?” Hanya itu yang bisa aku lontarkan. Aku tak ingin membuat hatinya semakin tergores lagi. Lagi dan lagi. Melihatnya menangis saja aku sudah tidak tahan. Aku tidak bisa membiarkan seorang wanita menangis di hadapanku, apalagi ini Sheena.

“Tak memiliki lebih baik dibanding kehilangan seseorang yang pernah kita miliki.” Ujarnya kembali masih dengan nada sendu. Sheena menengadahkan wajah cantiknya ke langit. Langit hitam pekat dengan taburan bintang. Cahayanya berpendar-pendar, mungkin bintang-bintang itu sedang berusaha mengurangi rasa sakitnya. Seperti aku, yang dengan tulus ingin mengobati lukanya dengan keterdiamanku ini.

“Kao, aku senang kau berada di sini.” Ujarnya, menatapku lekat dan tersenyum. Aku tahu itu sedikit memaksakan. Please, jangan memandangiku dengan derai air mata seperti itu! Aku tidak sanggup melihatnya!

“Aku selalu bersedia kapanpun kau membutuhkanku.” Aku mencoba tertawa, ingin menghapus dukanya. Andai saja aku bisa. Namun mungkin, hanya Mario yang bisa melakukannya.

“Mario masih mencintaiku tidak ya?” cibirnya. Sebuah senyuman terulas di wajahnya, dan aku tahu kondisinya semakin membaik. Terkadang kesedihan itu memang hanya akan hinggap dalam waktu yang sekejap, yang salah adalah kita, yang selalu mengingat-ingat dan mempertahankan kesedihan itu sendiri. Sheena, kau akan jauh lebih cantik saat tak menangis.

“Mungkin dia sudah berpaling untuk mencintaiku, tanyakan saja!” ujarku menggodanya. Sheena melempariku dengan sebuah White Teddy Bear pemberian Mario. Tawanya menyeruak disambut angin malam yang berhembus lembut di luar rumahnya. Semuanya terasa hangat kembali dan kuakui aku sangat senang berlama-lama di sini. Tenang melihatnya tersenyum kembali.

“Aku tidak percaya kalau sejak kecil aku berteman dengan seorang gay!” celotehnya merespons perkataanku. Kami tertawa bersamaan dengan tatapan yang saling menukik dalam. “Yeah, bahkan kau sempat berpacaran dengan pasangan gay ku.” Aku melempar kembali White Teddy Bear itu, ia berhasil menangkapnya dan kembali tertawa.

“Thanks, Kao!”

Aku tersenyum, rona wajah di pipinya meyakinkanku bahwa kali ini aku benar-benar berhasil membuatnya jauh lebih baik. Aku tulus melakukannya, aku senang berada di sisinya, walau aku tak suka melihatnya berduka karena putus cinta.

Aku berdehem memecah keheningan yang sejenak melintas. “Jangan—“

Suara deruman sepeda motor berhenti tepat di muka rumah Sheena. Aku dan Sheena segera menoleh dan kami saling berpandangan. Mario berjalan perlahan kea rah kami, dan tangannya menggenggam  setangkai mawar merah. Astaga, apalagi ini? Apa dia belum puas telah melukai hati Sheena?

“Sudah kuduga, kau pasti sedang curhat pada Kao.” Ledeknya dengan senyuman manja. Aku tahu sinar kebahagiaan terpancar dari mata Sheena, dan aku tak bisa mengelaknya. Terkadang orang yang yang membuat hati kita sakit, dia jua lah yang dapat menyembuhkannya. Dan aku tak cukup sanggup membahagiakan Sheena. Hanya Mario yang bisa menyembuhkan sebagian bahkan seluruh luka yang telah diberikannya.

“Aku kira kau takkan pernah datang menemuiku lagi.” Ujar Sheena terbata. Tangannya bergetar saat harus menerima setangkai bunga plus tatapan meneduhkan milik Mario.

“Aku kan sudah bilang, bukan berarti aku tak mencintaimu lagi.” Balasnya. Semoga saja Mario sungguh-sungguh dengan perkataannya, desahku dalam hati.

Aku sudah cukup terbiasa dengan pemandangan seperti ini, melihat Sheena berbahagia dengan Mario. Aku merasa berusaha untuk turut berbahagia, namun di dalam hati, mungkin ada sedikit nyeri yang tak bisa ku olesi dengan  obat pereda dari apotek mana pun.

“Sheena, aku harus pulang. Ibu dan Pang pasti sudah menungguku.” Ujarku kemudian. Kau tahu tak ada yang sanggup diam berlama-lama di antara pemandangan seperti ini. “Oh Kao, aku baru saja datang.” Protes Mario. Aku hanya terkekeh. Sheena memandangku tak enak, namun aku dapat meyakinkannya bahwa aku memang benar-benar harus pergi, bukan karena kedatangan Mario.

“Baiklah, salam untuk Pang, adikmu yang cantik itu.” Ujar Mario kemudian. Sheena dengan lugu menertawakannya. “Yeah, semoga saja kau memutuskan Sheena bukan karena adikku.” Celotehku kemudian. Meyakinkan bahwa aku baik-baik saja.

Mario tertawa lepas dan Sheena memelototiku. Aku segera melambaikan tangan dan pergi meninggalkan mereka. Semakin lama aku sadar, deruman sepeda motor yang kunaiki ini semakin tak karuan, aku melajukannya dengan kecepatan yang tak menentu.

Sheena, seandainya kau tahu. Aku tidak ingin pergi.

 

Mario menatap Sheena lekat-lekat, namun Sheena hanya menunduk. Mungkin ia tidak ingin mempertontonkan sisa tangisannya. Mario selalu marah bila melihat Sheena menangis, padahal kali ini ia yang telah membuatnya menangis.

“Maaf, aku tak menyangka akan sesakit ini.” Desahnya. Sheena perlahan menunjukkan senyumannya. Duka memang belum sirna dari wajahnya dan Mario menghargai perasaannya itu.

“Jangan ragu tunjukkan padaku, toh aku juga tadi menangis.” Lanjutnya kembali. Sheena terhenyak. Mario menangis? Ia pikir hanya wanita saja yang hatinya dapat teriris. Ia pikir hanya wanita yang bisa jatuh terhuyung-huyung karena cinta.

Air mata Sheena terjatuh kembali, dan kali ini Mario mengusap dengan kedua tangannya. “Dan aku datang kemari untuk menghentikan tangisanmu.”

“Aku pikir kau benar-benar akan pergi dan melupakanku.” Sheena kembali terisak. Perasaannya tumpah kembali. Mario hanya tersenyum miris. Miris dan malu, ia menyesal telah membuat orang yang dicintainya terluka.

“Kalau aku bisa melakukannya, aku tidak akan datang ke mari dan memastikanmu baik-baik saja.” Mario kembali berucap. Dan, yah, Sheena terhanyut kambali.

“Jadi kau mau menjadi pacarku lagi?” Sheena memastikan. Ada sedikit nada gusar di pertanyaannya. Mario menerawang jauh ke arah temaram lampu yang menerangi halaman rumah Sheena. “Sungguh aku tidak tahu, Sheena. Maaf.”

Sheena menunduk kembali. Sesuatu yang berat telah menghantam hatinya, dan mungkin membuatnya hancur berkeping-keping. Namun kehadiran Mario di sini sepertinya tidak akan memperparah keadaan. “Dan kau akan pergi mencari wanita lain?”

Mario tersentak. “Kau ini bicara apa sih? Seharusnya aku bilang pada ibumu agar kau tidak dicekoki  sinetron.” Cibirnya tersinggung. Sheena tersenyum kembali. Ia yakin Mario tidak akan meninggalkannya. Tidak akan pernah.

“Dan kepergianmu ke Jepang?” Sheena kembali mengomel. Mario hanya mendengus. “Oke oke aku berjanji, biar kujelaskan. Aku akan pergi ke Jepang untuk melanjutkan ke universitas terbaik di sana, meraih kesuksesan, dan kembali ke Thailand untuk menikahimu.” Mario bersungut.

Sheena tersenyum geli.

“Oke, ingat ya, kau berjanji kepadaku.” Tantang Sheena. Mario terlihat berpikir dan menimbang-nimbang sesuatu. “Aku tidak berjanji kepadamu.” Ujarnya datar. Senyuman Sheena tertahan.

“Sheena, aku tidak berjanji kepadamu. Aku berjanji pada diriku sendiri.”

Advertisements

One thought on “Move On ~ 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s