Move On ~ 1

“Sheena, tandatangani kemejaku!”

Seseorang memanggilku dari belakang, dan ketika aku menoleh, orang itu ternyata Kao. Aku segera menghambur untuk memeluknya. Tubuhnya terlalu tinggi, padahal aku ingin menggapai wajahnya. “Aku mengenalmu sejak kecil, dan sekarang kita sudah lulus SMA!” Ujarku histeris, Kao hanya tertawa dan membalas pelukanku. Pelukan hangat seorang sahabat, lantas ia melepaskannya saat Mario berjalan ke arah kami.

Sebentar lagi kita akan meninggalkan Amatyakul School, dan sebentar lagi kita mungkin tak akan berkumpul seperti ini. Aku tidak akan menyia-nyiakan pesta kelulusan yang luar biasa ini.

Mario berjalan mendekat, aku tertawa melihat pakaian seragam sekolahnya penuh dengan warna-warni tulisan tangan. Tidak berbeda denganku, hanya saja bagian depannya masih kosong. Mario pasti menyisakan tempat di kemejanya untuk ku tandatangani.

“Kao, kita sudah besar!” ujarnya sambil menepuk tangan Kao. Kao dan Mario tertawa bersamaan, aku hanya memandangi mereka bahagia. Mereka sama-sama tampan, bertubuh proporsional dan jangkung, pandai, dan segala yang aku inginkan ada pada mereka. Aku sangat menyayangi mereka sebagai mana mestinya. Kepada Kao, sahabat sekaligus orang terdekatku sejak kecil, dan Mario, pacarku.

“Yap, lulus SMA. Kita sudah legal untuk menonton hot film.” Balas Kao. Tawa mereka menyeruak  kembali, jelas aku mengerti apa yang mereka bicarakan. Dasar cowok! Batinku.

“Ayo kita bergabung dengan teman-teman yang lain, mereka sudah menunggu.” Ujar Mario. Aku memandang ke arah Kao, ia mengangkat dagu dan menariknya kembali, mengisyaratkan aku untuk pergi mengikuti Mario. “Kau juga ikut!” Lanjut Mario padanya, tapi Kao segera menggeleng.

“Tidak, aku masih ingin di sini. Sudah sana pergi!” sanggahnya sambil mendorong tubuhku dan tertawa. “Tidak…Tidak… Aku juga tak akan pergi kalau begitu. Aku ingin pergi kalau kakakku yang menyebalkan ini ikut.” Ujarku kemudian, memohon padanya. Acara apapun takkan lengkap tanpa Kao.

“Ayolah…. Ada Nattasha di sana.” Bujuk Mario. Kao tetap menggeleng dan bersikeras untuk tidak ikut dengan kami. Aku mendengus. Sepertinya kami benar-benar harus meninggalkannya. Baiklah, kalau itu memang maunya.

“Kalau begitu nanti kau menyusul ya!” ujarku segera. Ia mengangguk mantap dan tersenyum. Aku bisa melihat lesung di pipinya yang begitu manis. Kao melambaikan tangannya, aku tak yakin seberapa lama ia akan bertahan untuk diam tanpa menyusul kami. Mario segera mengajakku ke taman, tempat murid-murid yang lain merayakan kelulusan.

Aku melihat Nattasha sedang menyanyi di bangku taman, diiringi permainan gitar Khung. Gadis itu memang multitalent, tak aneh bila Kao mengaguminya. Sama seperti aku, aku juga mengaguminya. Dan menurutku mereka cocok. Aku tahu Nattasha menyukai Kao sejak lama, namun Kao belum mau bertindak lebih lanjut. Bodoh sekali dia!

“Sheena!” panggilnya. Aku hanya tersenyum dan mengangkat ibu jari. Ia kemudian kembali pada nyanyiannya. Mungkin tinggal beberapa part lagu lagi yang harus ia selesaikan, karena setelah Khung menghentikan petikan gitar di nada lagu yang terakhir, Nattasha segera berlari menghampiriku.

“Hai, Mario!” sapanya. Mario hanya membalasnya dengan mengedipkan sebelah mata lalu pergi meninggalkan aku dan Nattasha berdua, mungkin dia pergi menghampiri Khung.

“Ke mana Jirayu?” tanyanya. “Kao sepertinya sedang ada keperluan.” jawabku. Nattasha hanya mengangguk-angguk namun aku dapat melihat sinar matanya meredup. “Tapi Kao berjanji akan menyusul.” Nattasha tersenyum kembali.

Aku dan Nattasha memandang liar ke segala penjuru taman, mencari-cari arah suara yang menyanyikan sepenggal lagu dengan petikan gitar yang memanjakan telinga. Aku hafal betul suaranya, hanya Mario yang bisa menyanyi seperti itu.

Yeah, mataku mendapatkannya! Ia sedang duduk di samping Khung sambil memain-mainkan gitar. Aku tahu Mario menatapku lekat dari jauh. Aku hanya bisa tersenyum dan hatiku seperti meleleh. Nattasha hanya bisa bergumam “Wow!”. Aku tahu ia sama sepertiku. Tak bisa berkata apa-apa.

Mario meletakkan kembali gitarnya ke pangkuan Khung dan berjalan mendekatiku. Ramchamang menepuk pundaknya dan ia hanya tertawa. Tawanya sangat lepas dan natural, pemandangan yang indah. Anak-anak perempuan di sekelilingnya masih berdecak kagum. Mereka pasti berpikir betapa beruntungnya aku.

“Ada yang ingin aku bicarakan.” Mario segera menarik tanganku dan membawaku ke bawah pohon yang rindang. Nattasha hanya bisa memerhatikan kami yang semakin berjalan menjauhinya, namun wajahnya menjadi cerah saat melihat Kao kini bergabung dalam perayaan kelulusan.

Mario mengambil tanganku, lalu ia menulis dengan bolpoint yang ada di sakunya. Aku kegelian saat sesuatu bergerak-gerak di tanganku. Mario Maurer  ♥ Sheena Youngthacham tertulis dengan tulisan kecil tangannya. “Jelek ya?” tanyanya dengan ekspresi miris saat melihatku tertawa. Aku segera menggeleng mantap.

“Haha, oke ini cukup. Mmm… Sheena, aku harus memberitahumu sesuatu. Aku tidak akan melanjutkan universitas di sini, sepertinya aku sudah benar-benar akan ikut dengan Bibi Pond di Jepang.”

Aku menelan ludah. Aku sadar aku tak suka dengan keputusannya, namun tak ada pilihan lain. Bibi Pond adalah satu-satunya yang dimiliki Mario, setelah kecelakaan maut merenggut nyawa kedua orangtuanya sebulan yang lalu.

Aku seharusnya senang mendengarnya. Bibi Pond bukanlah orang sembarangan. Ia cukup tersohor dengan kesuksesannya dalam bidang kuliner di Jepang. Mario pasti akan sejahtera bersamanya.

“Sebenarnya aku benci mengatakan ini, tapi sepertinya hubungan kita harus di akhiri, aku takut tak bisa membuatmu bahagia saat aku jauh di sana. Jadi lebih baik aku melepaskanmu.” Ujarnya dengan berat, bibirnya bergetar dan tubuhnya terlihat melemas setelah melontarkan kalimat sialan itu.

Kalimat yang menghujam. Aku hanya bisa diam dengan isak tangis yang tertahan.

Seseorang di sana, di sini keberadaanku… Aku ingin hari ini berjalan lebih lambat lagi, seharusnya tak ada akhir… Aku ingin bersamamu lebih lama lagi, seharusnya tak ada perpisahan…

Mario kembali bernyanyi dengan nada yang tertahan-tahan, mungkin luka di hati menganggu tenggorokannya. Aku menatapnya lekat-lekat dengan buliran air mata yang tak dapat ku bendung lagi. Aku tak bisa mengklarifikasikan ini ke dalam kabar baik atau sebaliknya.

“Ya, ku harap kau bahagia dengan semuanya. Terimakasih untuk dua tahun ini.” Ujarku terhambat dengan isak tangis yang tak dapat ku tahan. Mario tersenyum lembut padaku dan aku bisa melihat air matanya menetes. Aku tak pernah melihatnya seperti itu, saat kedua orangtuanya meninggal pun ia terlihat sangat tegar.

Aku tidak bisa berkomentar apapun, tidak bisa menyanggah, tidak bisa menolak, namun hati ini juga belum bisa menerima. Segala hal indah tentangnya harus dibayar pahit oleh kenyataan di menit ini. Astaga, aku harap ini hanya mimpi.

“Bukan berarti aku tidak lagi mencintaimu.” Bisiknya di telingaku. Ia lalu berlari meninggalkanku dan semua pesta kelulusan ini, mungkin ia tidak tahan melihatku menangis. Atau ia sendiri tidak sanggup menahan tangis. Atau mungkin bukan karena keduanya.

Kao mendekatiku dengan langkah terburu. Ia menatapku iba, ia mengerti bahwa buruk untuk berkata ‘apa yang terjadi’. Ia yakin aku akan menceritakan semuanya, dan aku memang akan memberitahunya. Segalanya telah berakhir.  Aku berusaha untuk mengakhiri tangisanku dalam pelukannya. Jirayu Laongmanee atau Kao, sahabatku, aku sedang patah hati!

 

Advertisements

3 thoughts on “Move On ~ 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s