The Girl Who Sucks Your Blood Chapter 2

“Aku berangkat ya!” Riley segera mencium pipi Daniella, sepertinya ia kini memiliki mood yang lebih baik dari malam sebelumnya. Daniella tercengang dan membalasnya dengan senyuman, ia tak sempat membalas untuk mencium adiknya karena Riley telah melesat  lebih dulu untuk pergi ke sekolah.

Terlalu pagi bagi seorang biasa untuk pergi ke sekolah pada pukul 05:00. Namun tidak bagi Riley karena ia harus berburu terlebih dahulu untuk mengumpulkan pundi-pundi makan siangnya.

“Ke mana Riley?” seru Dakotta menghambur dari luar pintu dan langsung berlari ke hadapan Daniella. “Sudah pergi.” balasnya datar. Dakotta mendengus, Daniella hanya memandanginya dingin sambil mengoleskan selai berwarna merah ke atas roti tawar dan melahapnya. Dan kau tahu selai itu bukan berasal dari strawberry.

“Sial, baru saja aku ingin memarahinya. Meminum darah perampok itu sendirian dan membiarkan mayatnya tergeletak di depan rumah Mrs. Cood. Bodoh sekali. Untung saja belum ada orang yang menemukan mayat itu dengan bekas gigitan di tenggorokannya, kalau aku tidak segera mematahkan kepalanya dan menggusurnya jauh-jauh maka habislah kita.”

Daniella terkekeh dan segera mendekatinya. “Kau seperti tidak tahu bocah itu saja!” ujarnya sambil tetap melahap potongan terakhir sandwich selai darah mangsanya. Dakotta menggeleng tak habis pikir. Mengapa Daniella bisa sebegitu santainya? Padahal adiknya baru saja melakukan hal idiot yang akan mengancam keberadaannya, pikirnya.

“Ia membiarkan mayat itu di sana karena tahu kalau kau akan membersihkannya. Kenapa sih kau keberatan untuk membiarkan mangsa kita menjadi vampire? Kita kan jadi tidak perlu repot-repot untuk mematahkan leher dan menusuk ulu hatinya.” Daniella mengkritik, lagi-lagi Dakotta hanya membalas dengan semburan napas pasrah.

“Karena aku tidak ingin menyaksikan ada vampire-vampire yang lain yang bertingkah seperti Riley.” cibirnya. Daniella hanya tertawa. “Dan kau membiarkan James menjadi vampire malam tadi?” tanya Dakotta dengan tatapan menyelidik.

Daniella kemudian terdiam. Ia hanya berdehem membersihkan tenggorokannya. Sekali, dua kali. Ia kemudian segera bangkit dan kembali mengoleskan selainya untuk sandwich yang kedua.

Dakotta sebenarnya tahu jawabannya, Daniella tidak bermaksud sengaja membiarkan James menuntaskan proses transformasinya sebagai vampire, ia juga tak bisa menilai Daniella ceroboh dan bertindak bodoh seperti yang selalu dilakukan adiknya karena  ia sadar bahwa Daniella tak pernah menginginkan James hidup kembali. Jelas-jelas yang akan James lakukan hanyalah untuk terus mengejar cintanya. Dan yang seharusnya merasa terancam hanyalah Daniella. Dakotta tak perlu khawatir, seharusnya.

“Aku tidak sempat menuntaskannya. Police tampan itu keburu menemukan kita.” desah Daniella sambil kembali menduduki posisi di samping Dakotta yang sedang menatap  terpaku pada ornamen kuda putih di meja marmer. Tindakan tidak penting yang hanya dilakukan ketika ia sedang melamun.

“Aku akan mendapatkannya, Dakotta. Aku akan mendapatkan police tampan itu. Jeremy Hugson, pria kelahiran New York dua puluh empat tahun yang lalu.” Daniella tersenyum puas. Ia mengguncang bahu Dakotta dan berteriak kegirangan seperti orang gila.

“Ya, bila ia benar-benar bisa menerima seorang bitch. Ups.” Dakotta meledek. “Kau mulai sama menyebalkannya seperti Riley.” protes Daniella, tercekat. Ia mendelik dan menghindari Dakotta untuk kembali membuat sandwichnya yang ketiga.

“Lebih baik kau berangkat ke sekolah, sekarang!” lanjutnya kembali masih dengan nada kesal. Dakotta terkekeh dibuatnya. Ia tak benar-benar membuatnya tersinggung, hanya saja apabila Daniella akan benar-benar marah, itu sudah terlanjur.

“Baiklah, aku akan pergi mencari sarapan. Dan sepertinya Jeremy Hugson sangat empuk untuk dijadikan santapan.” godanya. Dakotta segera bangkit dan bersiap untuk pergi. Daniella melangkah menyusul dan segera menghadapkan wajahnya tepat di depan Dakotta. Jarak mereka hanyalah beberapa inchi.

“Kau tak akan melakukannya.” cibir Daniella. Dakotta tertawa kecil. “Aku tak akan melakukannya, tapi James yang akan melakukannya.”

○○○

Riley berjalan mengendap-endap. Arah matanya terfokus pada posisi duduk di penjuru belakang kanan, di samping Christian. Dengan langkah perlahan ia melewati bangku Lee, Marry, dan yang lainnya. Riley tak sadar ada seseorang memerhatikannya di sudut depan kelas.

“Terlambat lagi?”

Riley mendongak. Dugaannya salah. Mr. Andy telah lebih dulu memasuki kelas. Padahal dalam penerawangannya yang terakhir, Riley yakin betul dirinya melihat Mr. Andy masih berkutat dengan kemudinya di jalan raya.

Mr. Andy memang benar-benar sulit ditebak, bahkan bagi seorang vampire seperti Riley. Tapi bagaimana bisa penerawangan seorang vampire menjadi kacau hanya karena seorang manusia bernama Andy? Yeah, Andy De Mille.

Riley masih tak percaya dengan apapun yang di alaminya yang berkaitan dengan Mr. Andy. Saat pertama kali bertatap muka di depan kelas, Riley sama sekali tidak bisa membaca pikirannya  apalagi untuk mengenalinya. Biasanya, ia bisa mengetahui identitas dan asal-usul seseorang hanya dengan menyentuh atau paling tidak menatap matanya. Dan Mr. Andy adalah target pengecualian.

Bila melihat dari segi wajah dan dialek, Riley dapat membaca bahwa ia adalah pria berkebangsaan Belanda. Namun perkiraannya meleset pesat karena ternyata Mr. Andy adalah pria berkebangsaan Britania Raya atau Inggris.

“Mungkin ada di antara kalian yang bisa menebak siapa namaku?” ujarnya kala itu dan Riley sangat percaya diri untuk menjawabnya. Setidaknya, meski penerawangannya terhadap Mr. Andy sangatlah buram dan nyaris tak nampak, namun perkiraan seorang vampire terhadap manusia akan tepat sasaran. Riley percaya itu.

“Ingmar, Ingmar De Mille.” Tebaknya. Seisi kelas memerhatikan Riley yang begitu berani untuk mengungkapkan pendapatnya. Biasanya, setiap orang akan ragu dan khawatir bila diminta untuk menebak nama seseorang. Namun Riley melakukannya tanpa beban. Dan Mr. Andy terlihat menimbang-nimbang dan tersenyum.

Patrica –gadis kelahiran Swedia yang duduk dibelakangnya- memandang tak suka. “Oke, mencari perhatian guru baru pada awal pertemuan.” Bisiknya pada Carl yang duduk di belakangnya. Carl mengacuhkannya karna ia menyimpan perasaan pada Riley yang dingin dan spontanitas, intinya Carl menyukainya. Jadi, saat Patrica menggerutu kembali, siapa peduli?

“Well, Riley Jones. Tebakanmu beruntung, namun sedikit meleset. Namaku Andy De Mille. Namun harus kuakui kau luar biasa.” Ujar Mr. Andy kemudian. Seisi kelas memandang takjub ke arah Riley. Seruan tepuk tangan bergemuruh dipandu Carl.

Riley mengerutkan keningnya. Tebakannya hanya benar separuh? Bila Daniella mengetahui hal ini, ia akan segera mengolok-oloknya dengan sebutan vampire sok tahu. Bahkan bukan vampire namanya bila ia tak bisa membaca pikiran manusia.

Darimana ia tahu namaku? Aku kan belum menyebutkannya. “Darimana kau bisa menebak nama belakangku dengan begitu cermerlangnya?” Tanya Mr. Andy membuyarkan lamunannya. Riley berdehem. Tenggorokannya tercekat dan Riley seperti lupa bagaimana caranya membuka mulut. Seharusnya aku yang bertanya begitu, Bodoh! Batinnya.

“Mungkin dewi fortuna sedang melindungiku.” Ujarnya tanpa berpikir. Ya, dewi fortuna telah membuatnya berhasil membuat alibi seperti itu. “Yeah, bagus. Dan kuharap kau bukan seorang vampire yang bisa membaca pikiranku.” Ujarnya terkekeh. Seisi kelas tertawa, Mr. Andy berhasil meyakinkan bahwa ia adalah guru yang menyenangkan pada kesan pertama. Namun tidak bagi Riley, ia sama sekali tidak menyukainya.

Riley mencoba tersenyum. “Sepertinya kau keracunan Twilight Saga.”

Aku harus berterima kasih kepada Stephenie Meyer yang berhasil membuat orang-orang bodoh ini percaya bahwa vampire hanyalah sebuah dongeng yang diangkat dalam film layar lebar. Pikirnya.

“Ya, ya, kau benar. Makhluk tolol macam apa yang menghabiskan hidupnya dengan meminum darah. Sangat menjijikkan. Mungkin mereka tak mampu membeli minuman aneka rasa di supermarket.” Cela Mr. Andy. Sekelas kembali gaduh, tanpa sengaja ia telah menyudutkan Riley. Riley memaksakan untuk tertawa. Sangat miris.

“Namun kupikir Riley sama menjijikkannya seperti vampire.” Patrica bersungut. Carl mendorong kepalanya dari belakang. Dan Riley seratus persen setuju dengan apa yang dilakukan Carl. Ia mengedipkan sebelah matanya. Yes! Gumam Carl refleks.

“Ms. Jones!”  

Suara lantang  Mr. Andy menggema ke seluruh penjuru kelas, membuat Riley dan murid-murid lainnya terperangah. Riley menengadahkan wajahnya ke arah Mr. Andy yang sedang berjalan ke arahnya. Kini seisi kelas memerhatikan Riley yang nampak salah tingkah. Ia benar-benar tidak menyukai guru berusia dua puluh tujuh tahun ini. Mr. Andy selalu saja berkesan buruk di mata  Riley.

“Yes, Sir?” responnya. Riley benar-benar ingin keluar kelas sekarang juga. Ia sadar, mungkin Mr. Andy memerhatikannya yang hanya melamun sejak tadi. Riley benar-benar tidak bisa menerka apa yang sedang dan akan dilakukan pria berperawakan jangkung itu.

“Sepertinya kau sakit. Ayo ku antar pulang! Kalian adalah tanggung jawab kami di sekolah.” ujar Mr. Andy dengan pandangannya yang dingin. Riley membalas tatapannya dengan kening yang berkerut-kerut. Istilah konyol ‘sakit’ tidak ada dalam kamus hidupnya sebagai vampire.  “Biar aku saja yang mengantarnya pulang, Sir. Belum waktunya kita mengakhiri pelajaran.” Teriak Carl segera, dan seisi kelas langsung memelototinya.

Riley mendengus. Guru ini sungguh terlalu peduli. Pasti murid-murid perempuan lainnya merasa iri karena perhatiannya kepada Riley. Tapi justru semua ini membuat Riley muak. Ia terus  memikirkan kata apa yang pantas dikatakannya untuk menolak mentah-mentah.

“Riley, pulanglah dengan Mr. Andy! Aku sudah tak ingin belajar.” Gumam Christian yang duduk di sebelahnya, tentu saja ia hanya berani berbisik dan Riley mendelik tajam ke arahnya.

Riley tidak ingin ada satu orang pun di antara mereka yang mengetahui tempat tinggalnya. Dan bila mendesak, ia akan mengalihkan perjalanan ke arah timur Seattle, jauh berlawanan arah dari tempat tinggalnya.

“Aku telah menelpon saudara perempuanmu, dan ia menyetujuinya.” Lanjut Mr. Andy kemudian. Riley mendongak. Jadi Mr. Andy mengenal Daniella? Atau mungkin ia juga mengenal Dakotta? Ah, tentu saja Mr. Andy hanya membual, ia sama sekali tidak melihatnya menggunakan ponsel. Riley masih tetap bungkam dan diam di tempat.

“Riley, ayolah!” Christian memaksa. Ia segera bangkit dan membereskan meja Riley, dimasukkannya semua alat tulis ke dalam tasnya. “Hey, kau! Apa-apaan sih?” Riley tak bisa melawan. Ia tak ingin bersentuhan dengan siapapun. Ia tidak ingin siapapun merasakan kulitnya yang sedingin es. Dan Riley benar-benar kerepotan karena hal ini.

“Orang yang sedang sakit tidak baik berlama-lama di sekolah.” Alibi Christian tak bermutu. Riley mencibir namun ia langsung mendongak saat melihat Christian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah botol minuman berisi cairan kental berwarna merah.

“Christian!”

Christian memerhatikan botol minuman itu dengan tatapan menyelidik, seperti seorang peneliti di laboratorium. “Hanya sebotol jus raspberry tanpa air.” Ujar Mr. Andy. Yeah, bagus. Kali ini ia menyelamatkanku. Batin Riley. Ia segera merebut botol minuman itu tanpa sedikitpun menyentuh jemari Christian, dan ia sudah bersiap untuk pulang.

Sepanjang perjalanan Mr. Andy tak mengatakan sepatah kata pun, lagipula Riley sama sekali tak mengundangnya untuk berbicara. Ia sangat menikmati perjalanan penuh kebisuan ini. Baru kali ini ia pulang ke rumah dengan menggunakan kendaraan, padahal setiap harinya ia bisa memindahkan tubuh dari sekolah ke rumah –begitu pun sebaliknya- hanya dalam waktu beberapa detik tanpa menggunakan peralatan apapun.

“Origon Street?” Tanya Mr. Andy memastikan. Riley tercekat, dari mana ia bisa tahu tempat tinggalnya? Seingat Riley, ia mengisi data pada sekolahnya dengan alamat rumahnya yang dulu –Riley, Dakotta, dan Daniella selalu berpindah-pindah tempat saat keberadaaan mereka terancam. Dan tak mungkin seorang pun dapat mengawasi apalagi mengikuti jejaknya.

Mr. Andy menyeringai. Ia berhasil menepikan  Volkswagen Polo berwarna hitamnya di muka rumah Riley. “Sudah sampai.” Ujarnya kemudian. Riley masih terheran-heran dibuatnya, ia lantas pergi tanpa mengucapkan terimakasih. Mr. Andy segera melajukan mobilnya dan Riley memandanginya jijik dari jauh. Mungkin saja pria itu pernah tidur bersama Daniella dan mengantarnya pulang.***

Advertisements

One thought on “The Girl Who Sucks Your Blood Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s