The Girl Who Sucks Your Blood chapter I

Untuk ke sekian kalinya Daniella pulang larut malam, waktu telah menunjukkan pukul 01:00 namun ini sama sekali tidak penting untuknya. Pergi setiap malam dengan pergaulan Seattle memang tidak berbahaya untuk kesehatannya, hanya saja sedikit mengancam eksistensinya.

Angin malam bertiup kencang dan membuat rambut ikalnya yang kemerahan berkibar. James yang sedang mabuk meninggalkannya dengan kecepatan tinggi saat pertama kali menekan pedal gas, untung saja Daniella hanya butuh sepersekian detik untuk turun dari mobil maut itu. Daniella menyeringai, ia tahu akan terjadi sesuatu. James akan menabrak pembatas jalan di Lowton Street dalam kondisi mabuknya, dan Daniella akan bersiap untuk menyusul ke sana. Untuk mengambil darahnya.

Riley sudah berdiri di ambang pintu. Daniella tahu ia akan segera bersungut dan memaki dirinya. Benar saja, Riley sudah menunggunya dengan tatapan tak suka, gadis berumur enam belas tahun itu tidak pernah bisa menerima kakaknya berkeliaran di malam hari, meski semua tahu kalau vampire tidak pernah tidur.

“Berkencan dengan siapa lagi? Permainan seks apalagi yang telah kau lakukan?” sindirnya membuat Daniella terperangah. Dakotta yang sebelumnya hanya duduk tenang kini bangkit dan mencoba menenangkan Riley. Kedua kakak-beradik itu adalah sepupunya, dan ia tak ingin melihat pertengkaran di depan matanya.

“Seharusnya kau tak perlu menanyakannya padaku. Baca saja pikiranku dan aku tak perlu repot-repot untuk menjawab pertanyaanmu. Seorang vampire seharusnya tidak perlu susah-susah untuk mengintrogasi dalam mencari informasi.” ujar Daniella sambil memandanginya dengan tatapan dingin. Daniella sudah cukup kebal untuk menerima cemoohan dari adiknya sendiri, karena memang hanya Riley dan Dakotta lah yang mengetahui segala kebiasaannya. Sayangnya, hanya Dakotta yang dapat mengerti.

“Yeah, aku mengetahuinya, Jalang. Ups, seharusnya aku tak berkata seperti itu. Hanya saja seorang vampire tidak perlu menjadi perempuan nakal untuk mencari sarapan pagi. Seharusnya kau ikut berburu bersama kami, kami punya mangsa yang jauh lebih layak untuk dikonsumsi. Para perampok kelas tinggi yang meresahkan Seattle.” gumamnya, masih dengan nada yang menantang.

Daniella mendelik dan ia segera melepaskan sepatunya dan berjalan ke belakang berusaha menahan emosi. Dakotta memandanginya yang segera berlalu. Riley masih mencibir. “Kau melukai hatinya.” desahnya. “Kok kau malah membelanya sih?” gerutunya. Dakotta membuang napas panjang dan membantingkan tubuhnya ke kursi.

“James sedang sekarat dan belum ada yang menemukannya, ada yang ingin ikut aku?” ujar Daniella yang kini tengah mengubah gaun minimalisnya dengan pakaian yang lebih casual. Dakotta mengangguk dan segera bangkit. “Kedengarannya bagus, Riley membuatku haus.” desahnya kemudian.

Daniella berjalan mendekati Riley yang masih menahan amarah padanya. “Kau ikut?” tanyanya dengan nada sebiasa mungkin. “Aku tak berselera, Jalang.” ujarnya sinis. Daniella meninggalkannya dengan tatapan yang tak kalah tajam. Dakotta mengikutinya dari belakang, dan pandangan amarah Riley juga melesat ke arahnya.

Riley mendengus kesal. Tidak ada yang mengerti dirinya. Ia hanya tidak ingin kakak perempuannya itu menjadi wanita yang tidak benar. Walaupun pada hakikatnya mereka takkan pernah bisa berusaha menjadi manusia yang benar-benar. Yang lebih menyebalkan, kenapa Dakotta selalu saja membela Daniella dan mengacuhkanku, seolah-olah aku yang salah. Jangan-jangan Dakotta akan mengikuti jejaknya. Awas saja! Pikirannya meracau.

Ia melangkahkan kakinya keluar rumah, tidak pergi kemanapun, hanya berdiri mematung di hadapan pintu. Memastikan bahwa Dakotta sudah dibawa pergi oleh Daniella. Pergi untuk mencari santapan dini hari tanpanya.

Angin berdesir membelai rambutnya yang dikucir kuda tak beraturan. Ia menghembuskan napas, mengambil udara segar sekuat-kuatnya dan menyimpannya dalam kantong paru-paru. Lalu menghembuskannya perlahan. Seattle di waktu malam memang menakjubkan. Angin menelusup ke pori-pori dan membuat setiap orang malas untuk bangkit dari alam mimpi. Seharusnya manusia tak melewatkan suasana damai dan indah seperti ini.

Ya, karena Riley bukanlah manusia, ia tidak pernah melewatkan kesunyian yang sangat memanjakannya. Sesuatu yang didapatkannya dari Seattle di waktu malam. Sesuatu bergerak dari arah rumah tetangganya. Rumah bergaya mini kastil kuno dengan cat dindingnya yang sudah usang.

Matanya berkilat-kilat. Sesuatu telah terjadi di bawah sana. Salah satu kawanan perampok yang sedang diberitakan meresahkan Seattle kini berada dalam jangkauannya. Perampok itu memang menggunakan sarung tangan, namun ia terlalu ceroboh untuk menyelamatkan tangannya. Pagar besi dengan ujung runcing yang dipanjatnya merobek sarung tangan itu dan menggores luka. Jelas ia sangat menyesal dengan kecerobohannya, setidaknya dari darah dan sidik jari yang menempel di pagar saat ia memutuskan untuk membuang sarung tangannya yang kini tak berguna. Perampok itu tak sadar bahaya yang lebih besar mengintainya.

Sekali lagi Riley menarik napas panjang. Bau amis darah yang tak terlalu menyengat menyapanya di pagi ini. Sesuatu telah membuatnya berhasil meredam amarah pada Daniella dan Dakotta. Sesuatu yang membuatnya puas karena tak harus berburu dalam jarak yang jauh dan bertingkah seperti Daniella.

Riley menyeringai, ia menjilati bibirnya sendiri. Matanya terpaku pada mangsanya di bawah sana. Perampok malang itu.

Dakotta refleks menutup hidungnyaย  dan segera menghindar. Daniella yang kini tengah merogoh-rogoh semua kantong pakaian James terperangah melihat tingkahnya. Daniella berharap semoga ia bisa menemukan sesuatu yang berharga miliknya, namun yang ia dapatkan hanyalah nihil.

James tak bergerak, tubuhnya benar-benar mengejang dan kaku. Wajahnya pucat dengan darah yang mengalir dari dahi dan bagian tubuh lainnya membuat Daniella betah berada di sisinya saat ini. Daniella masih bisa menahan diri sejenak untuk tak langsung mematikannya yang sedang sekarat. Ia sangat menikmati aroma amis darah James yang menyapa penciumannya.

“Untukmu saja, aku tak suka bau alkhohol. Dan aroma tubuhnya sarat dengan bau alkhohol.” ujar Dakotta dengan volume suara yang tak terlalu kencang, namun tanpa berbicara pun Daniella telah dapat menangkap maksudnya.

Daniella mendesah dan mengertikannya. Ia kemudian terfokus kembali pada James. Dakotta terlalu dermawan untuk memberikan porsi sarapan paginya. Dan ia tak ingin melewatkan kesempatan seperti ini. Setidaknya aku tak perlu membunuh untuk mendapatkannya, ia memang seharusnya mati dengan sendirinya. Kecelakaan ini adalah keberuntungan bagiku, meski tidak baginya, pikir Daniella.

“Dan apa yang akan kau lakukan di luar sana?” tanya Daniella dari dalam mobil. yang rusak parah bagian depannya. Dakotta masih berjongkok dan terduduk di aspal jalanan. Angin malam menerpa tubuhnya, namun seorang vampire tak akan pernah menggigil kedinginan.

“Mungkin menjaga keamanan.” sahutnya. Daniella kembali memusatkan konsentrasinya, dan dalam beberapa hitungan giginya telah sukses menancap di leher dan menembus urat nadi James, kekasih semalamnya itu.

Daniella bangkit sejenak dari kenikmatannya itu. Tubuh James kini mengering dan tampak lebih kurus. Daniella membuka pintu mobil dan berjalan ke arah Dakotta yang hanya melamun menatap hamparan bintang di langit kehitaman.

“Tak ingin mencicipinya?” tawarnya dengan bibir yang belepotan darah. Dakotta meresponnya dengan tatapan tak acuh. “Untukmu saja. Aku sedang baik hati. Kalau perlu lebih baik kau menyisakannya untuk Riley.” desahnya. “Baiklah, akan kuhabiskan saja.” Daniella tersenyum sejenak dan kembali melesat ke tempat santapannya. Dakotta menggeleng-gelengkan kepala.

Suara sirine mobil -entah itu police atau pemadam kebakaran- memecah keheningan malam. Dakotta segera bangkit dengan raut wajahnya yang menegang. Daniella tersedak karena terkejut.

“Daniella!” teriak Dakotta. Daniella mengerti apa yang harus segera ia lakukan. Menghilangkan bekas gigitan di leher James dan melesat pergi agar tak ada yang menemukannya. “Daniella! Come on!” Dakotta kembali memanggilnya. Oh, sepertinya sudah ada yang menemukan James terlebih dahulu dan manusia itu melaporkannya kepada police, batinnya.

Dakotta masih menunggu dengan harap-harap cemas. Sorot lampu berwarna jingga dapat dilihatnya semakin mendekat ke arah mereka. Mobil police semakin jelas terlihat, beberapa saat lagi benda itu akan berhenti dan kalau Daniella tak kunjung selesai dengan urusannya, Dakotta benar-benar akan meninggalkannya.

“Aku beres.” Daniella segera melesat ke hadapan Dakotta. Ia mendesah. “Kita sudah terlambat. Hey, bibirmu!” desis Dakotta dengan sangat berhati-hati. Daniella segera mengelap bibir dan bagian wajahnya yang berlumuran darah dengan kedua tangannya. Ia segera membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang police muda berjalan mendekati mereka.

“Selamat malam. Apa yang dilakukan gadis-gadis seperti kalian berkeliaran tengah malam begini? Terlalu berbahaya.” gumam police itu. Daniella terlalu lemah untuk menyadari bahwa seorang pria tampan berdiri di hadapannya. Dakotta tahu bila ia tak mengantisipasi, Daniella akan hilang kendali.

“Kami sedang menonton film di rumah dan mendengar suara benturan yang sangat keras. Dan kami, mmm… menemukan mobil ini sudah hancur. Kami tak cukup berani untuk melihat lebih dalam, untung saja kau segera datang.” Dakotta membuat alibi.

Pria itu mengangguk-angguk. “Perlu kuantarkan kalian pulang? Apakah rumahmu jauh dari sini?” tanyanya kembali. Daniella masih berdiri mematung. Ada sesuatu yang meletup-letup dalam jiwanya. Desiran perasaan yang tak biasa.

“Tak perlu, rumah kami dekat dari sini.” ujar Dakotta segera dan berharap pria itu segera mengalihkan pandangan dari arah mereka.

“Jeremy, pengendaranya tewas.” kata seseorang di balik pintu mobil yang sudah tak berbentuk, laki-laki paruhbaya itu juga berseragam police. “Saat aku menemukannya, ia masih hidup dengan napas yang tersengal-sengal.” tutur seorang pria berjaket tebal dengan cemasnya.

“Baiklah, kami harus pulang sebelum orangtua tak menemukan kami di dalam kamar.” pamit Dakotta segera. Daniella kini tersadar kembali. Jeremy mengulurkan tangannya, Dakotta balas menyalaminya. Tangannya yang dingin membuat Jeremy refleks segera melepaskannya. Dakotta melupakan sesuatu untuk menyembunyikan identitasnya. “Yeah, kau tahu Seattle di waktu malam dapat membekukan tubuhmu.”

Jeremy terkekeh membenarkan. Kini giliran Daniella yang menyalaminya, dan mereka segera pergi meninggalkan Jeremy dan rekan-rekan yang akan memulai penyelidikan. Lagi-lagi Dakotta dan Daniella lupa menyembunyikan identitasnya. Jeremy nampak kebingungan karena setelah bersalaman dengan Daniella, telapak tangannya ternodai darah.***

Advertisements

6 thoughts on “The Girl Who Sucks Your Blood chapter I

    • yippie iya segera meluncur ya lanjutannya, ini chapter 1 belom selesai kok tenang-tenang ๐Ÿ˜€ tapi webseries itu dari beginning sampe ending nya dikit ya jalan ceritanya? Apa sama kayak novel? maklum, newbi untuk webseries hehe ๐Ÿ™‚

  1. i’ve read this… suka gaya bahasanya hehe. entah kenapa suka aja kalau tokoh blood suckernya cewek, kesannya sexy. scrolling blog intan ke bawah, tertarik baca yang ini deh. wait, baca lanjutannya dulu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s